Rabu, 27 Mei 2009

Ingin vs Butuh

Belakangan ini topik mengenai manajemen keuangan marak sekali dibahas di lingkungan sekitarku. Mulai dari teman yang mendadak sadar tentang pentingnya menabung, orangtua yang kembali mencerewetiku karena menilai pengeluaran aku yang semakin menggila, belum lagi topik-topik di televisi yang juga membahas tentang saving money.

Pribadi yang boroskah saya? Tidak. Dengan bangga saya bisa bilang saya memiliki pos tabungan yang tidak saya utak atik sedikit pun, dan setiap bulannya PASTI selalu saya isi. Keadaan keuangan saya stabil, tidak kekurangan juga tidak berlebih, cukup itu yang bisa saya katakan.

Hal tersulit yang harus dihadapi oleh setiap individu adalah menghadapi keinginan yang kadang amat menggoda. Satu hal yang selalu saya ingat setiap kali saya akan mengeluarkan uang dalam jumlah yang lumayan besar adalah nasihat Papa saya. Beliau selalu menanyakan hal yang sama setiap kali saya ingin membeli suatu barang “Apakah kamu benar-benar butuh barang ini? Atau ini hanya keinginan kamu saja?” Ya… Kalau memang barang yang akan dibeli tersebut memang suatu kebutuhan tentunya kita bisa menjelaskan efektifitas barang itu untuk apa. Jangan sampai kita terjebak dengan keinginan belaka.



Keinginan biasanya selalu berjalan beriringan dengan gengsi, itu berdasarkan pengalaman saya saja. Misalkan saat ini muncul Blacberry (BB), semua orang ribut mengenai barang yang satu itu. Berlomba-lomba untuk memilikinya. Untuk orang-orang yang memang butuh, seperti para eksekutif yang sibuk dengan segala tetek bengek bisnisnya, harus selalu mobile, wajar bagi mereka untuk memilikinya. Tapi seorang pelajar smp merengek-rengek ke orang tuanya ingin dibelikan sebuah BB, itu tidak wajar menurut saya. Pelajar tersebut hanya INGIN karena gengsi dengan teman-teman segengnya yang hampir semuanya meimliki BB. Yah OK, silakan anggap saya kuno atau apalah kata-kata yang sejenis. Tapi saya hanya mengungkapkan apa yang ada di pikiran saya.



Terkadang orang-orang tidak sadar bahwa apa yang ingin dia beli hanya sekedar keinginan saja. Karena keinginan ini bisa berkamuflase menjadi sebuah kebutuhan. Maka itu berhati-hatilah, jangan sampai ketika apa yang diinginkan tersebut sudah didapat barulah anda sadar bahwa itu hanya keinginan belaka, sehingga anda menyesal. Memberikan kesan pelitkah? Tidak. Justru di situlah sisi baiknya, kita bisa mengukur seberapa bijak kah kita menggunakan uang yang kita miliki.

Coba pikirkan kembali digunakan untuk apa uang yang anda gunakan tersebut. Akan memberikan dampak positif kah atau negatifkah. Jika memang lebih banyak memberikan dampak positif, OK silakan lakukan. Dan jangan lupa apakah hal itu memang suatu KEBUTUHAN atau hanya sekedar KEINGINAN. Sekali lagi, tulisan ini hanya wacana saja. Saya hanya menulis berdasarkan pemikiran saya saja. Semuanya kembali pada pelaku masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar