Rabu, 06 Mei 2009

Wanita vs Pria

Pagi ini bangun tidur dengan suasana yang ngga nyaman banget, walaupun segala pikiran positif coba untuk ditanamkan di otak dan di hati. Tapi tetap saja ngga membuat suasana hari ini jadi lebih baik.

Kalau dirunut ke belakang, sepertinya kejadian kemarin sore saat pulang kantor membuat dampaknya jadi seperti ini ke diri gue. Ada kejadian apakah?!

Sebenarnya bukan kejadian yang aneh, cuma gue masih suka terkaget-kaget dan terheran-heran aja, karena selalu menemukan hal ini terus menerus. Sudah beberapa minggu ini gue selalu pulang kantor dengan menggunakan bis umum. Dan kemarin, bis yang biasa gue tumpangi mendadak jarang sekali jumlahnya. Jadilah jam 4.45 gue baru naik bis, itupun dengan kondisi kursi nyaris terisi penuh oleh penumpang. Di daerah Semanggi ada beberapa penumpang lagi yang naik, salah satunya adalah seorang wanita tua. Wanita tua itu tidak kebagian kursi, jadilah dia berdiri. Hei... banyak sekali cowok, sorry pria maksud gue. Ok, di bis itu banyak sekali pria yang secara fisik terlihat sehat dan kuat yang mendapatkan tempat duduk. Tapi tidak satu pun dari mereka yang punya inisiatif untuk memberikan tempat duduknya bagi wanita tua itu. Ya Allah... Sebenarnya kejadian seperti ini bukan kali ini saja gue alami, cuma setiap kali gue menemukan lagi kasus yang serupa gue masih saja heran. Tidakkah ada di antara mereka yang berfikir bila melihat wanita tua itu "bagaimana kalau dia ibu saya, terlihat lelah, sudah tua, harus berdiri sepanjang perjalanan ini." Setelah gue tunggu beberapa saat dan tidak ada satu pun orang yang berinisiatif untuk memberikan tempat duduknya, baiklah, lebih baik gue saja yang memeberikannya duduk. Sungguh ngga tega melihat wanita tua itu.



Kejadiannya ngga hanya berhenti sampai disitu. Ternyata wanita tua itu salah naik bis. Dia baru menyadari ketika harus membayar ongkos bis. Ya Allah...malang nian wanita itu. Selayaknya orang tua, dia panik karena salah naik kendaraan. Jadilah penumpang satu bis tahu kalau dia sudah salah naik bis. Bukan simpati yang dia dapatkan justru cemoohan. Kaget... Bisakah hal ini berhubungan dengan moral seseorang? Kasihan sekali melihatnya. Gue coba buat dia agak tenang dengan memberikan alternatif kendaraan yang bisa dia tumpangi nanti setelah bis ini bisa keluar dari jalur bebas hambatan. Untunglah wanita itu tidak harus berkendara terlalu jauh. Supir bis itu ternyata baik hati. Dia menurunkan wanita tua itu di gerbang tol TMII, katanya dia hanya perlu naik 1 kali kendaraan lagi dari situ untuk menuju ke rumahnya. Tak henti-henti wanita tua itu berterima kasih pada pak supir ketika akan turun dari bis. Lega, itu yang gue rasa.



Gue sendiri bertanya-tanya "dia bukan siapa-siapa lo, lo juga ngga kenal sama dia, kenapa lo segitu pedulinya sama dia, belum tentu dia akan peduli sama lo". Tapi memang gue paling ngga bisa melihat orang yang kesusahan begitu. Satu hal kenapa bis selalu menjadi alternatif terakhir gue buat pergi kemana pun. Karena gue ngga suka berhadapan dengan orang-orang yang sangat tidak memiliki rasa kepedulian. Terlalu sering gue menemukan banyak wanita harus bergelantungan karena ngga kebagian tempat duduk, padahal di hadapan mereka tempat duduk itu diisi dengan laki-laki yang berfisik sangat sehat. Jadi sebenarnya yang salah adalah laki-laki itu karena tidak peduli pada wanita itu atau pola pikir gue yang masih menganggap bagaimana pun kondisinya laki-laki harus selalu melindungi perempuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar