Senin, 14 September 2009

Dari Temen jadi Demen

Bohong banget kalau ada yang bilang jadian sama sahabat itu enak. Alasannya karena udah sahabatan makanya jadi tau baik jeleknya jadi kalo jadian lebih bisa saling ngerti. Weehh...ngga juga, bawa derita iyah yang ada. Base on true story nih soalnya, gue nulis ngga asal nulis. Seperti yang pernah gue info di tulisan gue terdahulu, my love story record itu masuk ke tahap mengkhawatirkan. Nah...gue selalu terjebak sama yang namanya dari temen jadi demen, dan itu pelajaran berharga banget buat gue. Jangan deh lo campur adukkin pertemanan ama cinta, berantakan yang ada.
Okeii tulisan gue agak-agak subjektif sih, tapi coba deh dipikirkan. Terkadang di saat masih bersahabat, semua hal konyol, menyebalkan, kesalahan bisa ditoleransi dengan mudahnya. Tapi begitu hubungan itu naik kelas, semua berubah. Hal-hal konyol yang semula bisa jadi bahan tertawaan, kejadian menyebalkan yang bisa dimaklumi juga kesalahan-kesalahan kecil yang bisa dimaafkan tiba-tiba jadi sebuah hal yang amat mengganggu. Kesempurnaan begitu dituntut di sini. Segala hal yang semula bisa dibawa santai berubah jadi sebuah tuntutan dan beban. Weehh... berubah lah semua. Padahal sebenarnya individunya ngga ada yang berubah, sifat dan sikap mereka masih sama, hanya status saja yang berubah:

SAHABATKU menjadi KEKASIHKU

Tanpa disadari hubungan percintaan itu menuntut lebih banyak pengertian, siap berkorban dan beban mental tanpa lo sadari juga ikutan nimbrung. Kalau masih ada yang ingin coba untuk tetap cari pacar dari kalangan sahabat, banyak hal yang sepertinya harus disiapkan. Intinya, walaupun status lo naik kelas tapi usahakan untuk tidak memunculkan tuntutan-tuntutan yang nantinya bisa jadi beban di hubungan itu. Tetap santai seperti masih bersahabat dulu. Kalaupun sampai ada yang berubah seiring dengan munculnya sebuah komitmen baru, saling pengertian dan komunikasi yang berkualitas itu hal yang paling penting. Good luck buat yang lagi PDKT sama sahabatnya semoga langgeng.
**Ini hanya sebuah wacana, dimana gue cukup menyadari praktek lebih SULIT dibandingkan teorinya.

2 komentar:

  1. yaaaapppp..
    sayah sering mengalaminyaa.
    dan yang terburuk adalah waktu jaman SMA..

    pas pacarannya sii ga menuntut lebih, bahkan hampir sama kaya sahabatan dulu tapi sedikit lebih protektif..

    yang 'jedaaangg'nya adalah, setelah kita putus, HAMPIR SATU TAHUN kita ga pernah saling bicara karena mempertahankan ego masing2..
    persahabatan kita berantakan yg dibina dari smp, persahabatan sama sahabat2 lain ancur karena pada bikin kubu mihak kesalah satu. dan bencana lainnya.

    tapi, karena pernah jadi sahabat baik dikala suka dan duka, perlahan kita perbaiki itu dan kini kami semua menjadi sahabat lagi seperti dulu dengan perujanjian..

    no more other feelings from each other.
    :)

    BalasHapus
  2. dan bikin kapookkk
    ngga lagi-lagi pacaran sama sahabat
    pelajaran berharga banget ituu neng ^___^

    BalasHapus