Kamis, 25 Februari 2010

Berurusan Sama (Oknum) Departemen Pemerintahan itu...

MEREPOTKAN
BIKIN SAKIT KEPALA
EMOSI TINGKAT TINGGI
BIKIN MALU

Iye...emang nggak semua aparat pemerintahan (gue juga nggak menuduh semua aparat begitu kok), tapi oknum-oknum printil nih masih ajah berkeliaran bebas di departemen-departemen pemerintahan yang mana seharusnya membantu masyarakat.

Gue nggak ngarang-ngarang, ini emang MASIH terjadi di masyarakat kita.

Beberapa tahun lalu pas masih anget-angetnya gue lulus dari bangku kuliah (sigh..baru juga 3taun lalu ti..berasa tua banget lo :P), dikarenakan idealisme gue yang masih cukup tinggi. Dimana yang ada di otak gue adalah "gue mau ikut cpns ah", salah satu kelengkapan administrasinya adalah kartu kuning. Pergilah gue sama temen gue yang baru lulus juga. Lancar semua prosedurnya, mulai berasa janggal waktu mau ambil si kartu yang udah jadi. Di sebuah loket yang dijaga sama Ibu-ibu besar terjadi percakapan:

Pemeran Gue (G) dan Ibu-Ibu Besar (IIB)
IIB: (memanggil) Gue (nyebut nama eike)
G: (jalan menuju loket) ya Bu
IIB: seiklasnya (bisik-bisik)
G: apa?
IIB (menatap dengan tatapan dingin) biayanya seiklasnya
G: Oohh (masih belum ngeh, lirik-lirik) seiklasnya itu minimal berapa Bu?
IIB: (jawab dengan nada tinggi dan tatapan melotot) seiklasnya ya seiklasnya!
G: (berasa bodoh) oh baik Bu, sebentar ya (gue memberikan selembar 10,000)
IIB: terimakasih (lalu menyerahkan kartu kuning ajaib ituh)

Kenapa juga sih nggak dipasang saja tarif standar untuk pembuatan si kartu kuning ajaib itu. Kalau yang buatnya macem si gue yang polos nan agak-agak nyerempet ke bodoh kan kasian. Lagian lebih jelas kan, nggak mesti ada perasaan nggak enak dan tuduhan-tuduhan aneh dari si pencari kerja.

Kantor dimana gue bekerja saat ini, owner merangkap direkturnya adalah WNA. Yang mana selalu aja tuh ada oknum sebuah departemen yang rutin datang ke kantor. Alibinya sih menjual buku peraturan terbaru. Yang mana si gue kaget-kaget waktu masih jadi pekerja baru. Mereka nih selalu datang berdua mukanya serem asli preman banget mukanya, gue takut (ini serius, gue selalu mendadak deg degan kalo mereka datang saking ngerinya). Selayaknya pekerja baru yang masih polos, gue bilanglah ke bos gue ada yang datang dari A menawarkan buku peraturan yang harganya 450ribu (sumpahh mahall untuk sekedar kertas potokopian yang dijilid). Tanpa babibu bos gw langsung bayar biar nggak ribet. Gue pikir sudah ya nggak akan datang-datang lagi. Ternyata saya salah karena beberapa bulan kemudian mereka datang lagi dengan alibi yang sama. Tapi kali ini dikarenakan bos gue tidak ada di tempat, jadi mereka tidak mendapat sepeser pun uang. Beberapa kali mereka datang pas banget boss gue nggak di tempat. Sampai suatu hari mereka beruntung (awalnya), mereka datang saat bos gue ada di kantor. Berbasa basi sebentar (dengan saya, karena bos saya (berakting) sibuk :P), lalu gue tanya ada keperluan apa dan lagi-lagi jual buku peraturan. Baiklah...sekarang gue udah nggak takut lagi sama mereka, gue bilang dengan tegas saat itu kami belum membutuhkan buku peraturan baru. Karena alhamdulillah antara pemilik dan karyawan hubungannya baik dan bila ada hal-hal yang tidak sreg antara kedua belah pihak selalu dibicarakan baik-baik untuk menemukan solusi bersama. Gue pikir yaa..udah mengeluarkan argumen yang hebat banget mereka akan pergi dengan sopan, ternyata saya salah (lagi). Tanpa malu-malu mereka bilang (yang dalam kurung adalah celaan hati gue):

"Bu, kami ke sini memakai ongkos (lah emang, masa ngesot)...pakai uang (yaiyalah sejak kapan bayar pakai daun) paling nggak ibu kasih sesuatu kepada kami sebagai penjalin silaturahmi kita (sejak kapan silaturahmi bayar)"

Saking spechless nya gue, tanpa sadar gue jalan ke meja kerja gue, narik laci dan ambil uang SERIBUAN 50 lembar terus gue kasih ke mereka. Eh diambil lhooo boookkk...ckckckck..udah uangnya pecahan kecil sedikit pulak, diambil juga. Hadeuuuhhh bener-bener ga punya gengsi gue rasa mereka.

Setelah kejadian pemberian uang seribuan itu, mereka nggak pernah muncul-muncul lagi. Kapok gue rasa...Hahaha tapi saya salah (LAGI!!!). Beberapa hari lalu dia datang lagi (sendiri soalnya sekarang)saat bos gue ada di kantor. Kali itu gue udah bersiap dengan kalimat paling silet kalo dia pakai alibi silaturahmi lagi. Pokoknya gue udah bertekad nggak akan kasih sepeser pun uang ke dia. Cerita awalnya sama, nawarin buku peraturan yang bisa gue tolak dengan alasan logis.

Pemeran Gue (G) dan Oknum Departemen Pemerintah (ODP)
G: (setelah gue tinggalkan sekitar 20 menit dan dia keukeuh nggak mau pergi) Jadi ada yang bisa saya bantu lagi Pak? Kami sedang sibuk soalnya hari ini, sebentar lagi juga harus pergi meeting, kan nggak mungkin Bapak di sini terus ketika kami pergi.
ODP: Wah..Mr. nya masih sibuk juga ya Bu? (sambil melirik meja boss gue)
G: Iya, kami sedang sibuk SEKALI. Sudah dengan saya saja, apa yang bisa dibantu.
ODP: Baiklah dengan Ibu saja kalau begitu (sambil buka tas dan mengeluarkan si buku peraturan yang mahal banget), ini saya mau menawarkan buku peraturan 2010 Bu.
G: (tersenyum manis sambil membolak balik buku yang dia keluarkan) Wah Pak, yang tahun 2009 aja belum dibuka sama sekali lho... udah ada perubahan lagi ya Pak? Selain di cover tentunya (pakai senyum sinis)
ODP: Iya Bu..banyak sekali perubahannya.
G: Hmmm (tampak mikir) kalau nggak beli nggak apa-apa kan? (senyum manis ampe pengen muntah)
ODP: Oh nggak apa-apa Bu, cuma kan kalau perusahaan Ibu punya itu lebih baik.
G: Tapi sekarang kan jaman maju Pak, semua peraturan pemerintah terbaru sudah bisa diakses via internet.
ODP: Ohhh yang ini belum Bu, masih baru banget soalnya (dipikirr gue bodoh banget yah)
G: (aksi terakhir) Oh gitu...baiklah..tapi dikarenakan saat ini kami memang merasa belum terlalu perlu ya Pak. Jadi kami tidak akan beli dulu, kalau boleh saya tahu Departemen A masih di B kan lokasinya?
ODP: Iya benar Bu, masih di B
G: okeii kalau begitu saya nanti kalau perlu akan langsung beli ke sana aja (senyum kemenangan hahahaha)
ODP: (muka pasrah) baiklah Bu.
Tak lama dia pun pergi meninggalkan ruangan kantor karena udah empet liat muka gue yang menampakkan mimik ngusir, hohoho. Saya berhasil berhasil berhasil hehehehehehe. Semoga si oknum tersebut kapok dan nggak akan mampir-mampir lagi.

Selanjutnya...ada lagi nih oknum lain dari departemen yang lain. Jadi beberapa bulan lalu ada order dari Korea untuk sebuah produk Indonesia. Dikirimlah prodeuk tersebut ke sana, yang ternyata tidak bisa masuk ke Korea dikarenakan spesifikasi produk yang dikirim terlalu bagus. Jalan satu-satunya harus diretur dan diproses ulang untuk kemudian dikirim lagi ke sana. Siapin lah semua dokumen-dokumen yang dibutuhin, prosesnya lama dan ribet tapi lancar alhamdulillah. Sampai cuma tinggal selangkah lagi nih biar si produk bisa ditarik ke si suplier untuk proses ulang ehhh masalah datang. Pihak si oknum pemerintah nggak mau tandatangan dokumen pengeluaran barang IF tidak ada "amplop"..yasalam...ckckckck. Bukan hal aneh padahal sih ya..tapi si gue teh yang biasa dididik lurus sama ortunya masih aja suka kaget-kaget kalo nemu hal-hal beginian. Berikut percakapannya:

Pemeran Gue (G) dan Oknum Departemen Pemerintah Lagi (ODPL)
ODPL: Pokoknya Bu kalau nggak ada uangnya saya nggak akan tandatangan BAP nya.
G: Lho Pak..lain soal kalau barangnya nggak sesuai dokumen dan Bapak nggak mau tanda tangan, lah ini kan semua sesuai.
ODPL: Jaman sekarang Bu, mana ada yang mulus mulus aja
G: Jadi gimana nih solusisnya?
ODPL: Per kontainer 1juta.
G: (kaget) semahal itu? ya ampun Pak ini kan cuma retur, belum diapa-apain juga disananya. Ya udah kalau emang harus bayar buat tanda tangannya jangan segitu Pak dikurangin deh setengahnya (mulai ikut arus, karena nggak nemu solusi juga)
ODPL: Wah nggak bisa Bu, udah deh saya liat dokumen aja nggak kontainer. 3,5juta udah itu aja.
G: 2,5 deh Pak (pakai senyum maut)
ODPL: Nggak bisa Bu, Kalau mau 3,5 besok saya tunggu jam 10 di warung Padang depan kalau nggak mau ya udah kapan-kapan aja pas saya senggang saya tanda tangannya (pakai senyum kemenangan).
G: (pasrah tapi masih nggak mau ngaku kalah) Baiklah, tapi siapin kuitansi ya Pak (pakai senyum kemenangan yang nggak mau kalah, terus langsung pergi).

Jadilah teman... si gue sekarang akan meluncur ke bank buat ambil uang sumpelan.

ONCOMMMMMMMM!!!!!!

5 komentar:

  1. hou... serem amat yah...
    semoga gue ga bakalan ngalemin ketemu gituan ah...
    bingung gue kalo ampe mesti sinis2 sama orang...
    gue kan berhati lembut

    BalasHapus
  2. LAKI BUKAN SIH LOOOO????
    masa kalah soal beginian ama gue
    huahahahahahha

    BalasHapus
  3. ngepeeet....
    maksud gue kan gue atinya alus...
    bukan gue ga bisa ngadepin gituan...

    ntar gue ratain mereka2 sama tanah juga nih...

    BalasHapus
  4. hahahahaha...
    eiyy si ommel bisa galakk

    eh eh kita ikut taekwondo yukk, biar bisa membela kebenaran dan keadilan :p

    BalasHapus
  5. atut ah...
    taekwondo mah ceyeeem...
    debus aja yuuu :P

    BalasHapus