Rabu, 17 Maret 2010

Bagaimana kalau ... ?

Saya ini suka mikir kejauhan, karena saya memang pemikir. Hal sepele aja bisa jadi pikiran, omongan orang yang nggak sesuai sedikit saja sama saya pasti saya pikirin, ada hal ganggu kecil aja dipikir juga, dan sekarang lagi-lagi saya mikir. Tapi bukan hal yang nggak penting, ini penting. Menyangkut kebahagiaan orang lain. Nah lho...

Awalnya saya bertemu seorang sahabat hahahihi, di tengah pembicaraan, dia bercerita tentang Ayah seorang temannya yang meninggal secara mendadak. Di situ saya udah langsung mikir...

"kalau saya yang ngalamin gimana?"


Esok harinya, ada tetangga saya yang meninggal juga tiba-tiba. Padahal dia tampak sehat wal afiat. "Itu takdir" mama saya bilang. Dan lagi-lagi kejadian itu membuat saya berfikir...

"kalau orangtua saya yang diambil tiba-tiba bagaimana?"

Iya lho...saya sih sering terfikir (selewat aja) tentang hal tersebut. Tapi nggak pernah berani untuk berfikir lebih jauh lagi. Bukan apa-apa serem boookkk membayangkan kalau orangtua saya harus diambil tanpa basa basi. Begini deh... siapa pun orangnya pasti ada kan perasaan nggak rela kalau orang yang disayang harus meninggal. Beda kondisi ya kalau ada prolog dulu, sakit misalnya. Jadi paling tidak ada persiapan apabila hal terburuk terjadi. Ahh diralat...mau pake prolog dulu ataupun langsung diambil sama-sama nggak enak.

Nah hampir tiga hari saya kepikiran...

"kalau mama atau papa tiba-tiba meninggal, apa yang akan saya lakukan?"


Karena saya merasa:
1. Belum siap untuk hidup tanpa mereka.
2. Belum merasa sudah membahagiakan mereka.
3. Belum siap mengambil alih tanggung jawab untuk membesarkan adik-adik saya.
4. Intinya banyak kata "belum" yang berputar-putar di kepala saya.

Hubungan saya dan orangtua, alhamdulillah sangat dekat. Komunikasi kami nggak bermasalah, setiap ada sesuatu yang tidak sreg bisa langsung dibicarakan bersama-sama. Dan selayaknya anak yang dekat dengan orangtua, saya tahu impian-impian orangtua saya yang masih ingin mereka capai.

1. Melihat saya menikah dan memiliki anak.
Berat yah boookkk... Nah apakabar nih kalau pikiran buruk saya terjadi, dan poin ini jadi permintaan terakhirnya. Akan mengalami pernikahan paksakah saya? Secara keluarga besar Papa dan Mama saya lumayan keras juga mengenai poin ini. Bagaimana kalau mereka menjodohkan saya dengan orang yang tidak saya suka? Arghh...saya pusing... Jiwa saya terpecah, satu sisi berteriak "Nggak mau! Gue nggak cinta ama dia." tapi sisi yang lain berseru tak kalah lantang "Kapan lagi lo bahagian orangtua lo?! Sampai di penghabisan hidupnya, lo masih juga nggak mau mengabulkan impiannya?" Jelek banget kan pikiran saya, emang... Padahal saya yakin, di atas impian orangtua saya ada hal yang lebih mereka inginkan yaitu kebahagiaan saya. Tapi tetap saja saya akan dilema habis-habisan kalau sampai ada di posisi tersebut.
2. Memberikan pendidikan yang layak pada kedua adik saya sehingga bisa mendapatkan pekerjaan untuk menghidupi diri mereka kelak.
Nggak kalah pusingnya ini. Bukan..bukan masalah dana. Saya cukup yakin, Papa Mama saya termasuk orangtua yang bertanggung jawab dan pengatur keuangan yang baik. Sehingga dana pendidikan anak-anaknya sudah memiliki rekening terpisah yang tidak dapat diganggu gugat. Bagaimana saya tahu? Karena mereka sudah pernah memberitahukan hal ini kepada saya. Jadi dimana sulitnya? Tidak semua orang memiliki keinginan dan semangat yang sama dalam hal menuntaskan pendidikan. Contohnya saja adik saya, dia sudah melewati batas waktu lulus...entah apa yang terjadi sehingga dia agak kesulitan untuk segera menyelesaikan skripsinya. Yah walaupun saya sudah pernah melewati tahap tersebut tetap saja saya nggak bisa mencari solusi bagaimana lagi caranya untuk menyemangati dia supaya segera lulus. Nasehat Papa dan Mama saya saja sudah tidak mempan untuk menjadi buzzer-nya, apakabar kalau mereka benar-benar diambil dan saya yang harus menggantikan mereka? Ughh..tak terbayang beratnya tanggung jawab tersebut.
3. Melihat anak-anaknya hidup dengan layak dari hasil mereka sendiri.
Secara makin hari tingkat pengangguran di Indonesia makin tinggi yah bookk. Kalau saya sih alhamdulillah sedikit-sedikit sudah bisa menghidupi diri sendiri. Tapi adik-adik saya? Apa iya setelah mereka lulus akan langsung bisa bekerja dan berpenghasilan? Hanya Tuhan yang tahu, yang jelas kalau tidak ada keinginan untuk maju pastinya Tuhan juga tidak akan membukakakn jalan untuk mendapatkan rejeki tersebut.

Tiga poin itu yang paling mengganggu untuk saya. Baru saya sadari, ternyata impian-impian orangtua selalu saja mengenai anak, bukan mengenai diri mereka sendiri. Arghhh...terharuuu... Padahal belum tentu anak-anaknya memikirkan mereka sesering mereka memikirkan anak-anaknya.

Sebenarnya sudah sering sekali Papa dan Mama mengajak bicara bersama.

"Nanti habis Isya duduk bareng ya, ada yang Papa mau omongin."


Kata-kata tersebut selalu terucap dari mulut Papa setiap kali ada hal penting atau nasihat yang ingin disampaikan. Biasanya kami sekeluarga duduk bersama di ruang keluarga dan membicarakan uneg-uneg kami. Lucunya selalu saja ada scene mewek, iya siapa lagi kalau bukan saya si cengeng :P. Nah di obrolan keluarga ini, Papa Mama nggak pernah lelah untuk bilang "Ini bukan untuk Mama atau papa, ini buat kalian sendiri." Iyuuhh... kenapa setiap kali saya dengar kalimat tersebut langsung berasa ditampar. Ohh orangtua saya nggak pernah main pukul ke badan, tapi nampar lewat ucapan. Nasihat-nasihatnya maknyusss nyampe banget ke hati. Dan hal mengenai kematian pun pernah jadi wacana, Papa Mama meminta kami sebagai anak-anaknya untuk bisa ikhlas dan pasrah sama jalan Tuhan apabila saat itu datang ke keluarga kami.

Duuhh Gusti... sejujurnya saya belum siap kalau orang-orang yang saya sayang harus diambil kembali. Semoga mereka selalu diberi kebahagiaan dan selalu dalam lindungan-Mu ya Allah. Saya percaya apapun yang Kau putuskan itulah yang terbaik bagi umat-Mu.

1 komentar:

  1. ih, tanteh sedih baca postingan yg ini...jadi inget emak ama bapak gw...huhuhuhu

    BalasHapus