Senin, 29 Maret 2010

De Javu...

Beberapa waktu lalu saya menulis tentang ini.

Kurang lebih satu minggu lalu saya dapet kabar nenek saya dari Papa sakit. Kecurigaan pertama sih sepertinya Mbah Putri (panggilan nenek dalam bahasa jawa) kecapekan, karena beliau sempat keluar kota dalam kondisi kurang fit. Ternyata Mbah Putri didiagnosa demam berdarah, nggak pikir lama keluarga saya di sana langsung membawanya ke rumah sakit untuk opname. Kondisi Papa kebetulan pas lagi nggak fit juga, jadi Papa memutuskan menunggu kabar dari keluarga di Wonosobo sambil memulihkan kondisi badan.

Hari Kamis lalu tiba-tiba Om saya sms ngasih tahu kalau Mbah Putri mau dipindah ke RS Betesda Semarang. Kaget dong kita, "ada apa? kondisinya makin burukkah?". Tentunya pertanyaan-pertanyaan tersebut yang jumpalitan di otak kami. Papa langsung menghubungi Tante saya di Wonosobo, ternyata dia malah tidak tahu menahu. Itu keputusan sepihak dari Om saya saja ternyata. Akhirnya Papa saya telepon Om menginstruksikan supaya nggak usah dipindah karena khawatirnya, jarak yang lumayan jauh malah bikin kondisi Mbah Putri nantinya malah memburuk, selain itu masa inkubasi demam berdarah yang satu minggu jadi penyebab kenapa trombosit Mbah belum naik juga.

Om saya malah yang memutuskan pulang ke Wonosobo buat menengok Mbak Putri, dan Papa saya lagi-lagi merasa belum fit dengan kondisi badannya. Dan kabar buruk pun datang di Sabtu pagi, Om saya telepon kasih kabar bahwa Mbah Putri sudah nggak sadar. Big OO, iyah kaget, sedih, dan Papa saya masih aja keukeuh sumeukeuh belum bisa pulang karena alasan masih nggak fit kondisi badannya. Dan di sinilah cerita Mama mengalir sambil mehe mehe. Iya Mama saya nangis.

Jadi dikisahkanlah, waktu Mama dan Papa saya tinggal beberapa waktu di Wonosobo, Mbah Putri sempat bertanya ke Mama.

"Tut (panggilan Mama) Tisa itu kapan sing arep nduwe bojo? Mumpung aku isih iso nunggoni. Mumpung aku durung dijipuk karo sing kuoso."
artinya: "Tut..Tisa itu kapan mau punya suami? Selagi aku masih bisa nemuin. Selagi aku masih belum diambil Yang Kuasa."

Dreng...dreng....

Gue MEWEEEEEKKKK

Bukan apa-apa bookk... bukan soal sensitipnya itu pertanyaan. Tapi... gue berasa de javu. Dan gue bener-bener takut sama kata-kata tersebut.

Dua tahun lalu, waktu Mbah Kakung (bokapnya si papa) masih ada. Pas banget momen Lebaran, saya pernah ditanya mengenai hal yang sama dengan kata-kata yang mirip dengan apa yang Mbah Putri tanya ke Mama. Dan hanya berselang 1 bulan dari pertanyaan tersebut, Mbah kakung diambil kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Terserah ya saya mau dianggap cucu macam apa, tapi dari saat kematian Mbah Kakung sampai saat ini belum pernah satu kali pun saya datang ke makamnya.

Saya TAKUT

Ada beban tersendiri di benak saya, saya belum bisa mewujudkan keinginan terakhirnya(anjasss...berkaca-kacaa TT.TT). Makanya waktu Mama akhirnya kemarin cerita tentang uneg-uneg Mbah Putri, saya ketakutan, saya takut beliau diambil juga. Saya nggak siap, di depan Mama saya masih bisa tersenyum menenangkan, tapi begitu Mama pergi, saya menangis.

Saya cukup sadar, jodoh, maut, rejeki, itu semua Tuhan sudah atur untuk umat-Nya. Dan andaikan Mbah Putri tanya langsung ke saya pertanyaan tersebut, saya pasti akan jawab.

"Doain ya Mbah, aku udah berusaha juga kok berdoa juga, tapi kan manusia cuma bisa berencana, semua garis hidupnya, takdirnya, Tuhan yang atur."

Dan hal yang sama pun saya tanamkan ke diri saya.

"Manusia berusaha Tis, berdoa juga.. tapi kalau memang sudah saatnya Mbah Putri diambil, manusia cuma bisa terima. Yang sabar dan minta dibesarkan hati saja kalau sampe yang terburuk terjadi. Minta yang terbaik saja."

Minggu pagi akhirnya Papa dan Mama saya pulang ke Wonosobo. Sejak berita buruk itu datang, tak henti-henti saya berdoa minta yang terbaik, apapun keputusan-Nya Insya Allah saya bisa terima dengan lapang dada dan ikhlas. Dan kemarin malam Papa saya telepon, Mbah Putri sudah mulai sadar. HUahhhhh.... terharuuu....memang masih dalam pengawasan dokter. Tapi paling tidak ada titik terang menuju kesembuhan.

Ps: Mbah kuu semangat ya terus berjuang supaya cepet sembuh, nanti aku kesana buat nengok, JANJI ^.^

1 komentar:

  1. waahh, jadi terharu..
    semoga di berikan yang terbaik sama Tuhan ya tante... *pasti*

    BalasHapus