Rabu, 07 April 2010

saya berdamai

Pernah nggak kamu memendam dendam? Baik yang kamu sadari ataupun nggak kamu sadari.

Manusiawi menurut saya, ketika satu waktu ada sebuah kejadian yang membuat kamu terluka lalu kamu memendam semua itu. Dan entah disadari atau tidak, ego yang terluka itu mulai menggerogoti sebagian jiwa buat balas dendam. Jahat memang, tapi saya yakin pasti ada segelintir orang yang merasakan hal itu. Dan saya salah satunya.

easy to forgive but hard to forget

Itu sifat buruk yang saya miliki. Bukan hal mudah kalau sudah berhubungan dengan maaf memaafkan. Saya tahu Tuhan Yang Maha Sempurna saja bisa memaafkan hambanya, dan saya juga sering bertanya kepada diri saya.

"Kenapa kamu nggak bisa maafin kesalahan itu sih Ti?"

Dan selalu saja jawaban yang saya temukan adalah,

Saya manusia biasa yang punya keterbatasan dalam segala hal, dan hati saya adalah salah satu keterbatasan yang saya punya. Mengucapkan maaf adalah hal mudah yang akan jadi sulit untuk manusia-manusia berego tinggi, tapi memberikan maaf adalah hal yang lebih sulit karena terkadang ada trauma yang timbul dari kesalahan itu.

Beberapa waktu lalu saya sempat mengalami sebuah kejadian yang tidak mengenakkan. Dan tanpa saya sadari, kejadian tersebut membuat saya menjadi antipati pada orang-orang sekeliling saya. Saya jadi jahat, ada kesenangan tersendiri jika saya tahu orang tersebut sedang mengalami kesusahan. Tapi saya menjadi sangat kesal dan sedih jika dia bahagia. Hidup saya tidak tenang, tidak ada ketentraman sama sekali. Tapi saya juga sulit untuk bisa memberikan maaf kepadanya.

Dan...sebuah kealpaan dari diri saya membuat hubungan yang sudah tidak enak itu kembali terjalin. Berawal dari sapaan, menyambung dengan tanya kabar, lalu berujung dengan pujian. Saya sudah berubah, itu disadari olehnya. Hal itu membuat dia agak sedikit kaget, dan lebih-lebih setelah dia tahu betapa frontalnya saya bicara sekarang ini. Gong-nya adalah waktu saya bicara jujur kalau saya tidak merasa nyaman menjalin hubungan baik dengan dia, sebagian dari jiwa saya yang lain memberontak karena ingin berbuat jahat padanya. Pembicaraan terakhir itu sukses membuat komunikasi saya dengan dia yang sudah agak baik kembali renggang, dan lagi-lagi hal itu justru membuat saya lebih nyaman, walaupun saya akui ada setitik bagian di diri saya yang merasa ada yang kurang, ada yang membuat saya tidak tentram.

Tak diduga, dia muncul kembali beberapa hari lalu menyapa saya, bertukar obrolan, dan berakhir dengan pembicaraan serius.

Ungkapan penyesalan diungkapkan dengan tulus yang sukses membuat saya terdiam beberapa saat. Otak saya berputar keras memikirkan kalimat-kalimat yang pantas diucapkan untuk membalas sakit yang pernah saya rasa, segala kalimat pedas memang terlintas, tapi lidah saya kelu tak sampai hati untuk mengucapkannya. Tanpa saya sadari saya justru berkata, saya sudah memaafkannya dan ikuti waktu saja apakah hubungan baik ini bisa terus baik atau tidak. Nggak ada celaan, makian, satu pun ucapan pedes yang terlintas di otak nggak ada yang terucap. Dan disimpulkan:

saya berdamai

Kalau saya pikir-pikir lagi, bertahun-tahun saya menyimpan bara dendam, membuat hidup saya nggak tentram. Hanya dengan ucapan pengakuan penyesalan saja, selesai semuanya. Selama ini ego saya hanya menanti ucapan penyesalan saja. Boookkk...kenapa nggak dari dulu aja yah. Saya akui, setelah hari itu tepatnya setelah saya bilang saya memaafkan semuanya, saya langsung merasa lega. Seperti beban yang berton-ton beratnya itu tiba-tiba terangkat dari diri saya.

Untuk orang lain mungkin melihatnya saya berdamai dengan diri dia. Tapi sebenarnya, saya berdamai dengan diri saya sendiri. Selama ini dua sisi jiwa saya selalu bertentangan mengenai kejadian tersebut, dan ketika saya dengan sangat sadar memutuskan untuk menuntaskan masalah kosong yang saya pikir sekarang "nggak mutu banget", satu jiwa yang bermusuhan sudah berbaikan dan kembali satu. Saya bahagia ^o^

dendam hanya membuat kita berada di lingkaran sedih dan amarah, tanpa ada kebahagiaan di sana

Saya memang membuat janji pada diri saya untuk memperbaiki kualitas diri saya. Dan momen perdamaian kemarin itu jadi salah satu kemenangan saya dalam visi saya memeperbaiki kualitas diri saya. Tadi saya sempat membaca blog sahabat saya dan menemukan ini:
"Kalau ingin mata yang indah, carilah kebaikan dalam diri setiap orang; kalau ingin bibir yang menawan, ucapkanlah kata-kata yang bijaksana; kalau ingin tubuh yang semampai, berjalanlah dengan ilmu pengetahuan; dan kalau ingin tubuh yang langsing, berbagilah makanan dengan orang yang miskin.” (Maria Hartiningsih, wartawan Kompas)


Dan saya cuma bisa berusaha untuk terus memperbaiki diri sambil berdoa,

"Ya Allah...hamba hanya manusia biasa dengan segala kekurangannya, tapi hamba ingin menjadi manusia yang lebih baik setiap waktunya, bukan untuk mendapat pujian dari orang lain tapi hanya ingin bisa merasa bahagia untuk diri hamba sendiri. Jika hamba sudah merasa bahagia, semoga nantinya bisa memberi kebahagiaan juga bagi orang-orang di sekeliling hamba. Amin."

Saya ingin bahagia dan terus bahagia, kalian juga kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar