Rabu, 12 Mei 2010

Ditegur lagi...

Saya itu gampang terharu karena hal-hal yang remeh tapi buat saya itu meaning banget.

Kemarin sore, Jakarta dilanda hujan lebat. Ya walaupun kalau dibandingkan dengan Senin sore, masih jauh lebih deras yang Senin sore. Awalnya saya pikir, saya nggak bisa pulang on time jam 4 apabila hujannya masih deras. Tapi ternyata Tuhan baik sama saya, hujannya reda waktu jam 4 sore. Seperti biasa... saya jalan menuju halte Tosari dan naik si jembatan penyebrangan itu.

Saya melihatnya...

Siapa sih dia?
Saya juga nggak kenal, tapi wajahnya memang familiar karena dia memang berdagang tepat di bawah jembatan penyebrangan Tosari, usianya yang sudah lanjut tidak menghalanginya untuk berdagang. Lapaknya hanya berupa meja kecil, yang di atasnya terdapat berbagai macam permen. Permen-permen itu digeletakkan begitu saja, tersebar nggak beraturan, tanpa toples. Selain permen, kadang kala saya juga melihat dia menjual tisu, juga koran pagi dengan harga murah. Lalu si Bapak tua itu duduk dimana? Hmmm...dia duduk beralaskan koran bekas bahkan terkadang dia jongkok begitu saja. Kalau siang hari, saat matahari sedang terik, yang kebetulan saya sedang keluar kantor, tanpa sengaja saya sering melihat dia kepanasan. Bila hujan datang, tempat jualannya tak luput dari siraman hujan. Tapi saya selalu melihat tatapan Bapak tua itu begitu ikhlas menjalani rutinitasnya, sering sekali senyuman tersungging di wajahnya.

Sudah lama saya memperhatikan Bapak tua itu, tapi baru sekarang saya menceritakan tentangnya di sini. Saat hujan lebat kemarin sore, Bapak tua itu lagi-lagi membuat hati kecil saya tergerak.

Bapak tua itu melap tempat duduk di halte Tosari

Ada orang lain yang juga berdiri di situ, tapi mereka diam saja. Justru seorang Bapak tua yang tidak menggunakan halte itu, yang hanya jongkok tak jauh dari halte tersebut, yang berinisiatif untuk membersihkan fasilitas umum itu.

SAYA TERHARU......

Lagi-lagi Tuhan memberikan contoh kepada saya. Saya yang selalu saja mengeluh tentang pekerjaan, ketidakpuasan saya tentang uang, cuaca panas Jakarta dan hal-hal lain yang tidak memuaskan diri saya. Sikap Bapak tua yang kemarin sore saya lihat, membuat saya merenung dan berfikir banyak. Dia yang tua renta saja bisa tetap ikhlas berdagang di panas ataupun dingin, tempat jualannya yang 'seadanya' tidak membuat dia berputus asa.

Lagi-lagi saya menginstropeksi diri saya, sudahkah saya bersyukur, sudah sejauh mana saya bersikap ikhlas.

Terima kasih Tuhan karena lagi-lagi saya diingatkan untuk bersyukur.

3 komentar:

  1. iih... minty... kamu ko tambah dewasa ajah???

    BalasHapus
  2. diihhh jgn dewasa dong kesannya tua bookk :P

    BalasHapus
  3. beda siy tua sama dewasa.... dewasa tu kaya gue... tua tu kaya keket *semoga dia ga baca*

    BalasHapus