Jumat, 09 Juli 2010

Apa sih yang menjadi tolak ukur baik tidaknya seseorang?

Judul tulisan ini tiba-tiba terbersit di pikiran saya kemarin. Saya sendiri sering menilai diri saya sebagai pribadi yang jahat. Lalu saya berfikir, kenapa saya sampai menggolongkan diri saya sendiri ke golongan yang jahat? Kebanyakan orang menyebut diri mereka adalah pribadi yang sangat baik.

Mengakui diri sendiri sebagai manusia yang baik itu sangat berat (untuk saya), karena sedikit saja kesalahan yang dilakukan entah itu sengaja atau tidak, akan membuat title baik ini disangsikan. Saya lebih memilih menjadi pribadi yang jahat, karena membuat saya termotivasi untuk melakukan hal-hal baik. Kalaupun satu waktu saya terpeleset melakukan kesalahan, tidak ada yang perlu saya khawatirkan, karena saya tidak memiliki title baik yang harus saya pertahankan.

Lalu saya bertanya pada beberapa teman saya, bagaimana mereka menyebut si A baik dan si B jahat? Jawaban yang saya terima sebagai berikut:
1. Adik perempuan, nggak tahu tergantung baik apanya atau jahat untuk apa. Yang saya tangkap, dia melihat si pelaku ini melakukan hal A atas dasar apa, hal B untuk apa. Bagi saya semua tindakan yang memiliki niat yang baik belum tentu hasilnya akan menjadi baik juga, begitu juga niat yang semula tidak baik hasil akhirnya menjadi makin buruk.
2. Sahabat lama, sikap, kelakuan dan tindakannya. Hmm...ketiga kata tersebut sama artinya, intinya apa yang dia lakukan yang menjadi tolak ukurnya.
3. Rekan kerja, kepeduliannya. Sekarang begini, ada orang yang jika sedang ada masalah akan merasa senang apabila ditanya "kamu kenapa? ada masalah apa? cerita dong". Tentunya si penanya akan dianggap sebagai pribadi yang baik karena peduli atas apa yang sedang terjadi dengan rekannya. Tapi jika ternyata yang dihadapi adalah pribadi yang lebih memilih memendam semuanya sendiri, apa yang akan dipikirkannya? "Usil banget sih nih orang, mau tahu aja urusan orang. Bikin ribet aja." Dan tentunya si penanya yang memiliki maksud baik justru akan mendapat cap tidak baik jika berhadapan dengan orang seperti ini.
4. Seorang Om, mungkin tergantung seberapa jauh kita mengenal orang itu, karena sesuatu yang tampak sekilas jahat bisa saja mempunyai tujuan yang baik. Hmm...kok saya merasa jawabannya agak-agak menyindir saya ya hehehehe. Contoh gampangnya, si mellow curhat lagi ada masalah sama si silet. Orang pada umumnya kalau curhat akan diberikan masukan-masukan, apabila si pencurhat minta masukan. Tapi dikarenakan si mellow dan si silet sudah cukup ikrib, si silet memberi masukan dengan kalimat-kalimat yang dingin tapi dalem maknanya. Untuk orang yang mungkin belum terlalu dekat dengan si silet akan menganggap si silet itu jahat karena kalimat-kalimatnya yang penuh dengan kritikan, tapi berbeda dengan yang ditangkap si mellow. Karena hubungan yang sudah lumayan dekat, si mellow menerima masukan yang diutarakan si silet dengan lapang dada tanpa dendam, justru dia berterimakasih kepada si silet sudah memberikan motivasi yang apa adanya. Image si silet akan tetap jadi pribadi yang baik di mata si mellow.
5. Tante gosip, seseorang bisa dianggap baik apabila selalu ada jika dibutuhkan dan seseorang itu jahat ketika ada yang bersikap baik padanya tapi dia justru berpikiran negatif kepada orang tersebut. Saya suka situasinya, ada saat dibutuhkan. Jadi meminimalkan image "recok banget sih lo", tapi kondisinya antara kedua belah pihak harus sudah cukup dekat, supaya bisa saling memahami kapan dibutuhkan dan kapan tidaknya. Mengenai pikiran negatif, adakalanya kita harus waspada dengan apa yang orang lain lakukan pada kita. Misal, si gendut baik pada si kurus padahal sebelumnya si gendut ini tidak pernah berusaha untuk menjalin komunikasi dengan si kurus. Suatu waktu si gendut menelpon si kurus mengajak makan, ditraktir si kurus ini. Apa salah kalau si kurus berfikir, "tumben banget ada apa nih? hmm...jangan-jangan ada udang di balik batu". Menurut saya pikiran seperti itu nggak salah, hanya bersikap waspada agar tidak terjadi hal-hal yang buruk. Jadi terkadang negatif thinking itu ga selalu salah.
6. Tante cantik, seseorang itu baik jika bisa menjaga rahasia, selalu ada pada saat dibutuhkan, dsb. Sedangkan dia itu jahat jika ternyata dia adalah musuh dalam selimut, menikam dari belakang, hanya ada di saat senang saja, dsb. Okeiiii untuk jawaban teman saya yang satu ini saya nggak mau bahas apapun. Sudah langsung to the point, dan nggak ada yang bisa saya bantah juga :D.
7. Teman lama, banyak faktor dan terkadang tidak bisa dijadikan tolak ukur karena sifat orang bukan hal yang pasti dapat berubah sewaktu-waktu. Hal yang mungkin bisa digunakan untuk menilai adalah sifat, tingkahlaku, kepribadian, ketulusan, sikap menyelesaikan suatu masalah, cara berkomunikasi. Woooo...teman saya yang ini justru lebih panjang lebar lagi jawabannya. Cuma saya masih berfikir, sifat dan kepribadian bukankah sama ya? kedua-duanya kata lain dari karakter bukan ya? Hmm... menurut saya karakter seseorang itu sifatnya statis nggak akan bisa berubah sampai kapan pun tapi kalau sikap itu dinamis, bisa berubah sewaktu-waktu.
8. Tante bankir, yang tulus saja biasanya bisa terlihat dari sikap yang bersangkutan terhadap kita, tidak segan untuk mengingatkan jika kita berbuat salah, dan yang terpenting tidak menjelek-jelekkan di belakang kita. Ringkasnya adalah bersikap apa adanya dan tidak berpura-pura.

Jadi intinya apa dari semua yang saya tulis itu? Nggak tahu saya juga hehehe. Ya...kehidupan di dunia kan isinya memang soal baik dan buruk. Kita nggak bisa menilai si A buruk atau jahat kalau tidak ada pembanding yang lebih baik dari si A. Sudah berbuat baik pun terkadang masih saja dianggap tidak baik. Itu sifat dasar manusia, mencari-cari kesalahan orang lain. Jadi jika suatu waktu dihadapkan pada seseorang yang memang tidak baik, jangan langsung menghakimi si B jahat. Tapi coba kita gali lagi, kenapa dia berbuat hal itu, kenapa dia mengatakan hal ini. Kita coba cari hal yang baik diantara sekian banyak keburukan yang tampak. Nggak ada manusia yang memiliki kebaikan yang sempurna, tapi teruslah berusaha menjadi lebih baik setiap waktunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar