Kamis, 15 Juli 2010

Apakabar kantor pos dan surat-suratnya?

Tanpa menyengajakan diri mencari topik mengenai kantor pos, tadi siang saya membaca artikel tentang "nasib kantor pos sekarang". Keberadaan kantor pos saat ini tidak lagi hanya sebatas tempat mengirimkan surat seperti jaman dulu, tapi juga untuk tempat membayar rekening listrik, telepon, pembayaran tagihan kartu kredit sampai PAM. Fungsi utamanya sudah mulai terlupakan. Belum lagi keberadaan jasa-jasa pengiriman lain, semakin saja keberadaan kantor pos terpinggirkan. Dulu kalau saya pergi ke kantor pos, banyak sekali pengunjungnya, mengirim wesel pos (yang kini sudah tergantikan dengan transfer antar bank), pengiriman kartu pos dan surat-surat (yang sekarang sudah jarang, karena lebih praktis melalui sms atau telepon), pengiriman paket (yang harus bersaing dengan agen pengiriman yang lain).

Membaca artikel itu membuat saya bernostalgia ke masa kecil saya, waktu saya masih hobi surat-menyurat. Dan terucaplah,

Saya: minta alamat lo dong
Teman: buat apa?
Saya: kapan-kapan gue pengen kirim surat ke lo
Teman: hahahaha nggak mutu..norak...

Teknologi itu seperti buah simalakama, satu sisi membawa kebaikan tapi ada sisi lain yang harus hilang. Serius saya rindu berkirim surat, menulis di atas kertas surat yang bagus dengan sepenuh hati, menempelkan prangkonya, pergi ke kantor pos untuk mengirimnya. Saya mulai menyukai aktivitas berkirim surat sejak saya TK, keren kan?! Untuk ukuran anak kecil yang baru belajar nulis dan baru bisa baca sambil ngeja, saya cukup aktif menulis surat. Boleh dibilang, gara-gara hobi saya ini saya jadi lancar menulis dan membaca. Minimal saya mengirim surat 1 bulan sekali kepada seorang sahabat Mama saya yang sudah saya anggap seperti Tante saya sendiri. Dan aktivitas itu rutin saya lakukan sampai saya SD. Padahal isi suratnya juga sederhana, seputar ketidaksukaan saya dengan pelajaran gambar, prestasi saya yang semakin bagus, teman saya yang nakal, hukuman Papa waktu saya dapat nilai 0 dan hal-hal remeh lainnya.

Begitu masuk SMP, saya mulai mengurangi kegiatan berkirim surat saya. Tapi bukan berarti berhenti sama sekali. Saya masih sering menulis surat yang ditujukan kepada sahabat saya. Padahal rumah kami dekat, masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun dikarenakan lokasi sekolah kami yang berbeda, membuat saya dan dia jarang bisa bertemu. Dan nggak tahu kenapa, meskipun saat itu rumah kami sama-sama sudah memiliki telepon, bercerita melalui surat lebih menjadi pilihan kami. Isi suratnya sih nggak usah ditanya, nggak jauh-jauh dari curhatan-curhatan anak abege yang lagi pengen tahu soal dunia. Paling ditunggu-tunggu waktu Lebaran akan tiba, saya dengan beberapa teman selalu rutin saling mengirimkan kartu lebaran melalui pos. Begitu masuk sekolah kami akan saling memamerkan kartu-kartu lebaran yang kami terima, bangga sekali kalau mendapat banyak kiriman kartu lebaran hahahaha.

Tentunya gara-gara hobi saya berkirim surat, saya jadi hobi mengumpulkan kertas surat yang bagus-bagus. Sampai sekarang pun saya masih suka gemes kalau pergi ke toko buku dan melihat berbagai macam kertas surat. Tapi bedanya sekarang sudah bisa mengontrol nafsu buat beli-beli kertas itu.

Ahhh saya benar-benar rindu menulis surat terus mengirimnya di kantor pos, atau memasukkannya ke kotak pos.

Apakabar yah kotak pos yang suka ada di pinggir jalan? Pak pos nya masih rajin ngintipin kotak suratnya nggak ya? Ah...teknologi-teknologi, saya senang dengan semua kemajuan ini, tapi saya juga terkadang pengen ngerasain lagi hal-hal jadul. Sekarang ini orang-orang lebih memilih mengutarakan segala sesuatunya melalui sms, atau malah telepon, bisa juga mereka mengirimkan pesan melalui email, situs jejaring sosial bahkan chatting sambil webcaman. Keunggulannya memang lebih praktis, dari segi ekonomi pun biayanya lebih murah. Tapi feel-nya beda... Entah kenapa saya rindu dengan perasaan saat menulis surat, ataupun membaca balasannya. Berusaha menebak-nebak emosi yang tergurat melalui tulisan dalam surat, dan hal itu nggak bisa dirasakan melalui sms maupun email.

Ahhh saya rindu berkirim surat... adakah di antara kalian yang sedang ingin bersurat-suratan juga?

*sepertinya gue lahir di jaman yang salah -___-*

1 komentar: