Rabu, 07 Juli 2010

Saya sayang mereka

Liburan sekolah sudah dimulai, malahan sudah akan selesai. Minggu lalu pun beberapa sepupu saya dan seorang keponakan saya dari luar kota datang berkunjung untuk menghabiskan waktu liburan di rumah saya. Rumah yang biasanya sepi, karena penghuni tetapnya hanya Mama, Papa, saya (setelah jam 5 sore), si tengah (kalau pas pulang) dan si bungsu (kalau nggak nginep di rumah temennya) mendadak ramai. Saya bukan tipe orang yang banyak omong dan punya banyak topik obrolan, lebih cenderung diam dan bicara seperlunya. Tapi kehadiran sepupu-sepupu saya sejujurnya membuat saya senang. Sayangnya mereka lebih memilih menghabiskan lebih banyak waktunya di rumah Om saya yang kebetulan tidak begitu jauh lokasinya dari rumah saya. Cukup maklum dengan keputusan mereka, dikarenakan rumah saya sepi dan Papa Mama saya sudah tidak memiliki anak yang seumur mereka, mungkin ada perasaan tidak nyaman di diri mereka. Beda dengan rumah Om saya, yang mana anaknya masih seumur dengan mereka, mainannya pun banyak dan sama-sama sedang liburan sekolah

Kebetulan sepupu-sepupu saya yang datang ini adalah dari keluarga Papa. Papa memang memiliki keluarga besar, ini serius besarnya. Papa anak ke-3 dari 9 bersaudara, yang semuanya sudah berkeluarga, punya anak, bahkan ada yang udah punya cucu. Setiap lebaran tiba ramainya bukan main rumah Nenek saya di Wonosobo. Belum lagi, keluarga Papa ini sangat erat hubungan silaturahminya, jadi sampai sekarang hubungan dengan sepupu-sepupunya Papa sangat dekat sekali. Bayangkan nenek saya itu adalah anak bungsu dari istri ketiga kakek buyut saya, saya lupa jumlah anak dari tiap istrinya. Saya ingat waktu saya masih SD, keluarga besar Papa mengadakan pertemuan keluarga di sebuah balai desa. Meskipun tidak hadir semua tapi balai desa tersebut tidak bisa menampung semua anggota keluarga yang hadir. Terbayang kan betapa besarnya keluarga Papa saya ini. Saat lebaran tiba berarti saatnya saya mengingat-ingat kembali nama-nama anggota keluarga yang akan saya temui. Serius mengingat nama adalah hal paling susah buat saya. Oh ya... bukan berarti hubungan dengan keluarga Mama saya tidak baik ya, tapi keluarga Mama adalah keluarga kecil yang mana mama anak ke-3 dari 4 bersaudara dan kakek saya adalah anak tunggal. Jadi isi keluarganya hanya segitu saja.

Keluarga kecil vs Keluarga besar
Saya senang dengan besarnya keluarga yang saya miliki. Banyak hal yang bisa dilakukan bersama-sama itu jauh lebih berkesan dibandingkan dengan kelurga yang hanya berisi 4 orang saja (seperti yang pemerintah canangkan). Ada seorang kerabat saya yang sangat menginginkan sebuah keluarga kecil saja, cukup 1 anak kalau bisa suaminya pun anak tunggal saja. Hmm....menurut saya (ini murni pendapat saya saja) segala hal ada baik buruknya. Mungkin kalau dilihat dari sisi "yang ngerecokin" kalau keluarga kecil, maka meminimalkan hal-hal recok yang ganggu. Tapi coba kalau kita sedang susah, banyaknya anggota kelurga bearti semakin banyak yang akan membantu kita. Bagaimana pun keluarga akan menjadi yang pertama yang akan kita mintai bantuan sebelum orang lain. Sebanyak apa pun sahabat, teman yang kita miliki, keluarga lah yang (lagi-lagi) menurut saya akan membantu paling ikhlas saat kita susah

Makin besar sebuah keluarga semakin banyak keributan
Perbedaan pendapat, miskom, saling sensi karena hal remeh itu biasa. Bukan berarti saya sok dewasa ya. Saya sering sekali pundung nggak jelas hanya karena masalah-masalah yang sebenernya sepele. Keributan itu bisa diminimalkan dengan memperbaiki komunikasi. Kakak adik ribut, orangtua sama anak salah paham, itu pasti akan selalu ada di setiap keluarga mana pun. Dari perbedaan-perbedaan itulah setiap anggota keluarga jadi bisa belajar saling mengerti, memahami dan bertoleransi antara satu dengan yang lainnya. Dan 1 kredit yang dimiliki oleh keluarga, apapun kesalahan yang kita buat selalu ada maaf dan kesempatan yang akan diberikan ke kita. Keluarga punya toleransi tak terhingga atas kesalahan-kesalahan yang kita perbuat. Jangan juga kita jadi nggak tahu diri terus bikin kesalahan terus. Manusia kan punya batas kesabaran juga yah

Keluarga saya juga bukan keluarga yang sempurna. Secara ekonomi keluarga saya biasa-biasa saja, tapi alhamdulillah sampai saat ini kami selalu bersyukur atas apa yang kami miliki. Permasalahan yang keluarga saya temui juga jarang mengenai masalah ekonomi, nggak pernah malah seingat saya. Biasanya lebih ke masalah beda pendapat atas suatu topik aja. Misal adik saya belum kelar juga skripsinya, terus dia ditanya sama Papa Mama saya tapi yang dia tangkep adalah tuduhan dia males ngerjain skripsi itu. Atau soal pertanyaan mana pacar kamu yang ditujukan ke saya dan saya pundung (curcol). Hal-hal yang seperti itu saja biasanya. Beberapa waktu lalu saya juga sempat mengalami salah paham dengan keluarga saya, nggak tanggung-tanggung saya sampai niat mau kos aja. Tapi itu kembali lagi ke komunikasi, begitu Papa saya tahu kalau saya mau kos, dia melarang keras. Bahkan meminta maaf atas kesalahpahaman yang disebabkan olehnya. Buat saya, di sebuah keluarga nggak ada yang namanya gengsi-gengsian, siapapun yang salah harus berani minta maaf dan memperbaiki kesalahannya. Nggak memandang posisi dia sebagai orangtua ataupun anak. Papa saya pernah bilang, orangtua pun pasti pernah berbuat salah dan seperti yang orangtua lakukan kalau anaknya berbuat salah, anak pun harus memaafkan kesalahan yang dibuat oleh orangtua. Kembali ke soal "manusia itu nggak pernah luput dari kesalahan". Meminta maaf dan memberi maaf sama-sama membutuhkan keberanian yang besar, tapi maaf-maafan diantara keluarga jauh lebih mudah dibandingkan dengan orang lain. Saya yang memang tipe easy to forgive but hard to forget, sangat mudah meminta maaf dan memberi maaf kepada keluarga. Karena yang ada di pikiran saya, sampai kapan pun nggak ada yang namanya bekas orangtua, bekas adik ataupun bekas kakak tapi sahabat, teman itu masih bisa dicari lagi. Orangtua, adik, kakak, kalau kita sampai kehilangan mereka hanya karena kesalahpahaman yang sebenarnya masih bisa diluruskan dengan maaf, mau cari kemana lagi

Bersyukur
Bersyukur itu jadi kunci semuanya. Kenapa sih papa aku nggak royal kayak Papanya si X? Kenapa sih Mama aku cerewet banget? Kenapa ya adik aku nyebelin sekali? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan ganggu lainnya, inti jawaban semuanya adalah bersyukur. Banyak yang kehilangan Papa Mama nya dan jadi seorang yatim piatu, sedih karena tidak ada yang menegur mereka saat berbuat salah. Banyak yang hidup sebatang kara tanpa sanak saudara, bermain sendiri, tidak ada tempat berkeluh kesah, bahkan harus membanting tulang sendiri untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Bersyukurlah karena punya orangtua dan saudara yang perhatian dengan kita bukan cerewet. Kita nggak akan pernah tahu betapa kita membutuhkan mereka sebelum kita kehilangan mereka, jadi berbahagialah selama mereka masih ada di dekat kita dan "mengganggu" kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar