Rabu, 15 September 2010

Cerita Lebaran

Sekian lama nggak nge-blog...finally nulis lagi :D

Pertama-tama karena masih bulan Syawal,saya mengucapkan minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin. Maaf banget kalau tulisan-tulisan saya terladang melantur nggak berujung, maaf apabila ada tulisannya yang sarat dengan kenyinyiran, maaf kalau tulisan saya isinya curhat colongan dan terutama maaf kalau malesnya suka kumat jadi mempengaruhi kepada tidak terupdatenya blog saya ini. Bersih lagi ya, suci lagi jadi ya...

Hmm..lama nggak posting tulisan harusnya banyak ya yang bisa saya ceritain. Kemarin-kemarin sih rasanya emang banyak banget yang pengen saya ceritain, begitu ngadep laptop malah jadi ngga ngerti mau nulis apa, mendadak blank. Okei di mulai dari yang paling baru aja, soal lebaran-lebaranan.

Awalnya saya sudah membuat rencana untuk mulai cuti tanggal 6-17 September, apa daya perusahaan ini bukan milik saya, jadi apapun yang menyangkut ijin-ijinan saya nggak bisa seenaknya main cabut. Yang ternyata bos saya yang baik hati tapi banyak ga baiknya itu HANYA memberi cuti dari tanggal 8-15 September. Yeah..pelit... Saya yang dasarnya moody jadilah langsung drop semangat mudiknya. Males aja bookkk kalau mudik cumi secuprit doang waktunya, capek di jalan. Mulailah lobi-lobi ke Pak Haji dan Bu Haji supaya saya bisa diijinkan menjadi satpam rumah saja selama mereka dan dua adik saya mudik, apa daya lagi-lagi terbentur pada kenyataan “saya masih di bawah asuhan orang tua” jadi tetap harus ikut mudik.

Jadilah kami keluarga Haji Bambang Istanto bertolak menuju Solo (kota kelahiran Mama) pada tanggal 7 September malam, dan alhamdulillah perjalanan kami dilancarkan tidak mengalami kendala apapun. Hanya 2 malam di Solo kami melanjutkan perjalanan menuju Wonosobo. Bener-bener deh, hidup saya nih lengkap banget, punya orangtua yang tinggal di 2 wilayah yang cuacanya jauuuuuhhh berbeda. Solo yang panasnya amit-amit dan Wonosobo yang dinginnya bikin linu tulang. Dan saya dapet hadiah, yak hadiah besarrrrr

KULIT MUKA SAYA MENGELUPAS!!!

ARGHHHH!!!

Yak saya nggak akan memperpanjang mengenai proses pengelupasan kulit wajah saya, secara saya bukan guru biologi dan nilai biologi saya juga nggak bagus-bagus amat. Sudah sewajarnya si kulit sensitif mengalami hal ini, dari tempat yang panas tiba-tiba berpindah ke tempat yang dingin sudah pasti si kulit kaget dan akhirnya mengelupas.

Lebaran tahun ini juga nggak berbeda sama tahun-tahun lalu. Ada sungkeman, ada silaturahmi keluarga, ada mewek-mewekan (saya kan cengeng), ada opor, ada makanan lain yang enak, ada wisata kuliner, ada foto-foto walau cuma seiprit (seriously hawa narsis tahun ini merosot tajam), ada belanja, ada bagi-bagi angpau (udah ngga terima angpau eike), ada gosip keluarga, dan lagi-lagi masih ada pertanyaan “kapan??” hahahahhahaha. Tenang-tenang nggak akan curhat kok saya mengenai yang terakhir itu.

Ada 1 hal yang nggak ada di tahun-tahun kemarin. Papa saya mengunjungi rumah sepupunya setelah hampir 50 tahun nggak ketemu. Ini bukan cerita sedih, cuma buat kalian yang cengeng nggak ada salahnya siapin tisu buat elap-elap air mata siapa tahu tumpah, atau kalau yang nggak mewekan bolehlah tisunya buat elap-elap keringet siapa tahu udara di tempat lo sana pas panas banget (Jakarta dingin banget ya boookk belakangan ini). Oh ya...ceritanya agak panjang :D

Jadi Papa saya berasal dari keluarga militer, Kakek saya merupakan seorang tentara. Seperti tentara-tentara yang lain, Kakek saya sering sekali harus dinas keluar daerah bahkan keluar pulau dalam jangka waktu yang nggak sebentar. Mana jaman dulu kala yang namanya tentara masih penting banget perannya, yang namanya negara baru merdeka masih butuh para satpam tingkat tinggi ini. Ketidakhadiran Kakek saya di dekat Papa, membuat Papa yang sejak kecil diasuh oleh nenek buyut dari pihak Nenek jarang bertemu dengan saudara-saudara dari pihak Kakek. Hanya sesekali saat Kakek dan Nenek sedang kembali ke Wonosobo saja, menyempatkan waktu untuk silaturahmi ke pihak keluarga Kakek. Kebetulan Kakek saya berasal dari Purwokerto, walaupun jaraknya tidak begitu jauh dari Wonosobo tapi dikarenakan keterbatasan waktu yang dimiliki, jadilah Papa tidak begitu mengenal dekat keluarga dari pihak Kakek. Saya agak lupa kapan mulainya Papa mulai mencari kembali saudara-saudaranya dari pihak kakek. Lebaran tahun ini, sejak jauh-jauh hari Papa memang sudah memberitahu kepada 3 anaknya dan tentu saja istrinya kalau sepulangnya kita dari liburan Lebaran akan mampir sebentar untuk mencari sepupunya yang lama tidak dia jumpai. Ternyata nggak sulit mencarinya, thanks to Allah, karena Papa masih diberikan ingatan yang cukup bagus untuk menemukan rumah sepupunya, walaupun hanya ancer-ancernya saja. Dan apa yang terjadi saudara-saudara begitu kita sampai disana?

TERHARU!!!

Sepupu Papa ini ternyata perempuan beliau sudah janda, beliau adalah anak dari Kakak tertuanya Kakek saya. Hidupnya sungguh memprihatinkan, ternyata beliau masih menempati rumah peninggalan orangtuanya. Maka itu tidak sulit untuk menemukannya. Saat kita sampai di sana, seperti layaknya orang yang sudah lama tidak bertemu, bayangkan hampir 50 tahun!! Siapa juga yang bisa duga bahkan bermimpi pun nggak pernah. Kami diterima dengan baik oleh seorang laki-laki sepertinya hanya berbeda 2-3 tahun dengan saya. Papa mengutarakan maksud kami datang untuk bertemu dengan sepupunya (nyebut nama tentunya) dan saat itu muncul sesosok wanita tua dengan daster seadanya, rambut dicepol, mata teduh tapi menunjukkan tekad kuatnya. Si wanita tua itu mengatakan dialah orang yang Papa cari, dan dia balik bertanya siapakah Papa saya itu. Papa akhirnya menjelaskan mengenai siapa dia dan maksud kedatangannya. Dan wanita tua itu inget lho begitu Papa saya mengenalkan namanya dan menyebut nama Kakek saya. Bude (panggilan saya untuk wanita tua itu) saya langsung berkaca-kaca tidak menyangka kedatangan tamu yang sudah sangat lama tidak ditemuinya. Di dalam ruang tamunya mengalirlah cerita yang lalu, dia mengingat-ingat terakhir bertemu Papa saya saat masih berumur 10 tahun, dulu Papa setiap kali datang selalu digendong oleh Ibunya (anjasss mulai berkaca-kaca gw inget kejadian kemaren). Saya lupa berapa bersaudara Bude saya ini, tapi intinya dari semua saudaranya hanya tinggal dia yang hidup. Yang lebih miris lagi, dia memiliki 5 orang anak dan sekarang hanya tinggal 1 orang saja dan sudah tidak bertemu selama 10 tahun, yang lainnya sudah meninggal dunia. Saat ini beliau hidup bersama cucu-cucunya, suaminya baru meninggal hampir satu tahun yang lalu. Sedih banget saya dengar ceritanya, tapi anehnya dia bercerita tidak dengan sedih, dia bisa cerita dengan tegar dan banyak bersyukur karena masih bisa hidup sampai sekarang dan bisa bertemu Papa. Seperti mimpi, itu yang berkali-kali dia ucapkan. Adik saya malah sampai disebut sebagai jelmaan Kakek saya, mirip katanya. Yang mana saya sama si tengah terbengong-bengong bingung mencari-cari dimana miripnya, hahahhaa. Katanya matanya si tengah mengingatkan Bude saya sama Kakek. 1 orang anaknya yang masih hidup saat ini tinggal di Tanjung Pinang, sudah 10 tahun tidak pulang, bahkan saat Bapaknya meninggal dia pun tidak pulang. Pekerjaannya juga tentara, katanya istrinya berasal dari negeri tetangga kita yang lagi hot-hotnya dibahas belakangan ini. Waktu kami sedang di rumah Bude, Papa mencoba untuk menghubungi anaknya (anaknya sering menelpon Papa) tapi ponselnya tidak aktif. Saat kita sudah di perjalanan, dia menelpon Papa, ternyata dia sedang bersama keluarga istrinya, mertuanya sedang datang ke rumahnya untuk silaturahmi. Sedih lho bookk, nggak terbayang aja di pikiran saya, seorang anak selama 10 tahun tidak menemui orangtuanya. Dan kalau masalahnya soal biaya yang mahal, kayaknya sih ngga yah. Entahlah, apa alasan yang membuat hati anak tersebut tidak terketuk untuk bertemu orangtuanya barang sebentar saja. Saya hanya berharap dan sungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan saya Allah SWT, semoga Bude yang baru saya kenal selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan dan dilimpahkan rejeki sehingga masih bisa terus menemani dan membahagiakan cucu-cucunya. Hatinya tetap tulus dan tidak mengutuk anaknya yang berada nun jauh disana. Untuk anaknya (yang berarti sepupu saya) semoga selalu dilimpahkan kebahagiaan, ketenangan hati meskipun dia mengabaikan orangtuanya, dan segera terketuk hatinya dibukakan pikirannya, sehingga rejekinya yang melimpah bisa digunakan untuk membahagiakan orangtuanya, seorang Ibu yang masih dia miliki. Amin.

Wehh panjang bener yak tulisan gue sekarang xixixixi, okei dicukupkan dulu buat saat ini. Lanjut lagi nanti ya, c u...

Temani, hargai dan cintailah keluargamu seakan-akan mereka tidak akan adalagi besok, jangan sampai waktu memberikan perpisahan pahit antara kamu dan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar