Kamis, 11 November 2010

Perempuan cantik dan mobil BMW

Siang tadi karena tinta printer habis, si bungsu baik banget mau mengantar saya pergi ke sebuah 'franchise refill tinta yang ada di mana-mana itu'. Nggak lama juga kalau cuma refill aja sih yah.

Cerita bermula gara-gara ada sesosok Mbak-mbak cantik lagi berdiri di pinggir jalan. Ini bukan hoax walaupun saya nggak mencantumkan bukti fotonya. Tapi sebagai wanita saya juga kasih nilai bagus buat perempuan itu. Dia cantik dengan rambut berpotongan bob sebahu, dengan tubuh langsing yang tinggi semampai, kulit putih, memakai mini dress biru dan stoking hitam, membawa shoulder bag dan stiletto hitamnya membuat kakinya makin jenjang. Terperinci kan penggambaran saya, meskipun nggak ada bukti foto yang terlampir. Si bungsu nih tipe lelaki-lelaki yang kalau ada pemandangan "aneh" sedikit langsung isengnya keluar. Siulan pelan tanda ada yang nggak beres itulah yang bikin saya menoleh di tengah kemacetan dan mengamati perempuan cantik di pinggir jalan itu.

Begini ya, sebelumnya saya mau menegaskan, saya bukan tipe orang yang sinis sama penampilan yang seksi. Nggak munafik saya meskipun berkerudung, saya suka melihat perempuan yang tampil seksi, asal... lihat sikon. Pakai rok mini berkemeja jalan kaki di kawasan SCBD, buat saya masih termaafkan. Kan banyak bookk yang suka jalan kaki pas makan siang. Pake gaun streples pas ada pesta di hotel, sesuai tempat kok, asal..jangan diumbar-umbar banget "belahan"nya. Seksi yang elegan lah, sesuaikan sama lokasi dan waktunya. Janganlah awalnya mau tampak seksi untuk menuai pujian, jatuhnya malah jadi seksi murahan yang ada malah dapet hujatan.

Sama kasusnya kayak perempuan berbaju biru di pinggir jalan ini. Over all nggak ada yang salah sama penampilannya, semuanya cocok dipakai sama mbak itu. Walaupun dressnya cuma sampe batas sejengkal dari pingulnya, tetap pantes dia pakainya. Cuma sayang banget penampilan udah bagus gitu jadi berantakan gara-gara salah lokasi. Ini yang saya menyebutnya seksi tapi murahan, coba kalau dia berpenampilan begitu pakai kendaraan pribadi, pasti OK. Lah ini berdiri di pinggir jalan yang saya asumsikan dia sedang menunggu angkutan umum. Walaupun si bungsu punya asumsi berbeda, "kali aja dia lagi nunggu mobil pribadi yang jemput dia mbak". Hmm..bener juga sih, siapa tahu dia nunggu jemputan, tapi apa nggak bisa yah dijemputnya di rumahnya aja??

Dan sepakatlah saya sama si bungsu. Perempuan berbaju biru di pinggir jalan ini kalau di misalkan dengan iklan suatu produk, misal mobil BMW. Yang umumnya mobil BMW ini punya citra mahal yang elegan yang mana pemasarannya pun di kalangan atas dengan showroomnya yang bagus banget, tiba-tiba berubah lokasi jualannya jadi di pasar malem. Meskipun harganya masih mahal tapi citra eksklusifnya hilang gara-gara tuh mobil dijual di pasar malem yang identik sama rakyat jelata. Ini kan permisalan yahh, nggak beneran, nggak mungkin juga BMW dijual di pasar malem.

Intinya... berpenampilan seperti apapun itu hak masing-masing orang. Tapi orang lain yang ada di sekitar kita pun akan ikut menilai penampilan kita. Oleh karena itu, supaya kita bisa lebih dihargai oleh orang lain, ada baiknya kita menghargai diri kita terlebih dahulu. Bagaimana bisa orang lain menghargai kita kalau kita tidak bisa menghargai diri kita sendiri. Tunjukkan kalau kita memang pantas mendapatkan nilai yang bagus, berpenampilanlah seusai dengan situasi, lokasi dan waktu. Jangan sampai salah kostum dan jadi bahan nyinyiran orang.

Nite... :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar