Rabu, 15 Desember 2010

Sapaku untukmu

Halo sayang...

Apa kabar?
Melihatmu berdiri di sini menunjukkan kamu baik-baik saja. Lama sekali kita tidak berjumpa, kenangan tentangmu pun samar-samar kuingat. Tapi ada rasa hangat menyakitkan yang membuncah di dada ini. Aku tahu, ini rindu. Rasa yang lama sekali tidak bisa aku rasakan. Rasa yang ikut membeku ketika suhu tubuhku menurun. Sungguh membahagiakan bisa merasakan hangat ini lagi.

Hei...apa itu?
Sepertinya tidak hujan di sini, kenapa ada air di pipimu?
Apakah itu air matamu?
Sayang jangan menangis, saat ini aku terlalu bahagia bisa berjumpa denganmu lagi. Ragaku ingin berlari memelukmu, mengecup pipimu, merasakan hangat tubuhmu, mencium aroma khas dirimu, tapi ruangan ini menahanku.

Lili putih, kamu masih mengingatnya.
Kamu masih mau membawa bunga itu untukku?
Apakah itu berarti kamu memaafkanku?
Memaafkan kealpaan bodohku yang pergi meninggalkanmu hanya karena seonggok daging berkelamin sama denganmu yang jauh lebih berada secara materi. Ya... betapa bodohnya aku, meninggalkanmu yang memiliki hati seluas samudra, mempunyai kesabaran yang tak terbatas.

Tuhan menghukumku telah menyakiti seorang keturunan Adam yang mulia. Aku melukai hatimu, dan balasannya dia melukai ragaku. Entah sudah berapa banyak pukulan yang aku terima, berapa banyak tendangan yang membuat lebam tubuhku, berapa banyak caci maki yang dilontarkan ke wajahku, dan terakhir tusukan belati yang hanya sekali merobohkan tubuh lemahku. Aku melihatmu sekilas saat itu, kamu muncul dengan wajah sedih, jauh lebih menyedihkan dari sekarang. Lalu aku tak sadarkan diri.

Ketika terbangun, aku sudah berada di sini. Terperangkap dalam sebuah kotak sepanjang 180 centimeter. Kedinginan, gelap, pengap dan ketakutan. Saat itu aku masih tak paham, apa yang terjadi. Seiring berjalannya waktu, aku pun sudah memiliki beberapa teman di sini, aku pun paham. Inilah hukuman yang sebenarnya untukku. Menunggu di sini sampai kiamat datang menjemputku.

Paling tidak melihat kamu berdiri di sini tersenyum meskipun dengan tatapan sedih, aku bahagia. Kamu baik-baik saja, dan kamu memaafkan aku. Sering-seringlah mengunjungiku supaya aku tidak melupakan kenangan kita yang hanya sedikit. Dan jangan lupa untuk membawa manusia baru yang sedang dikandung oleh wanita yang ada di sebelahmu. Berbahagialah... :)

Terimakasih untuk bunga lili yang kau bawa untukku.

2 komentar:

  1. ini tentang apa sih??ga ngarti!!

    BalasHapus
  2. cumiii demi apa lo ga ngatri???
    keliatan banget kali arti dibalik tulisannya, ahh kamuuu

    BalasHapus