Rabu, 19 Januari 2011

Pelajaran baru lagi

Awalnya saya ketemu sama Bapak penjual kue semprong di halte Tosari. Bapak tua ini udah sering saya lihat, dua hari sekali dia pasti jualan di bilangan Tosari situ. Kasihan banget deh ngelihat sosoknya, kurus, kecil, jualannya pakai blek kerupuk itu, tau kan? Yang buat nempatin kerupuk di warung-warung itu, dia jualannya dipikul masing-masing pikulan diisi dua blek sambil di atas bleknya itu juga disusun kue semprongnya yang dibungkus plastik.

Sedih banget deh kalau ketemu Bapak ini, mimik mukanya tuh mengibakan banget. Temen saya si Mayo ajah kalah mengibakannya sama Bapak tua ini *out of focus*. Belum lagi suaranya waktu menjajakan si kue semprong ini, makin kasihan deh lihatnya. Kenapa nggak lo beli Ti dagangannya kalau kasihan? Pernah saya beli saking kasihannya, cuma kan kalau saban ketemu saya beli, lah saya yang jadi butuh dikasihani nanti, jd bokek :p.

Nah tadi tuh dia lagi-lagi menjajakan dagangannya ke saya, cuma saya menolak halus. Selesai membereskan soal kasihan-kasihan ini, lahh ada kejadian lagi.

Seperginya si Bapak semprong itu, saya masih duduk manis di halte Tosari nunggu bis yang akan mengantar saya pulang. Tiba-tiba saya baru sadar akan kehadiran nenek di sebelah saya. Dia nanya ke saya apa bis 213 lewat sini. Saya jawab, lewat. Dan dimulailah ceritanya.

Rupanya nenek tua ini ada janji dengan seseorang, partner bisnisnya lah bahasa kerennya. Produknya itu berupa tas daur ulang. Dia janjian di halte atmajaya jam 8 pagi, karena nenek ini mau langsung menuju ke Pasar (saya lupa nama pasarnya) untuk menjual kembali si tas ini. Ternyata ditunggu-tunggu si partnernya ini nggak muncul-muncul, sampai akhirnya dia jalan dari Atmajaya dengan harapan ketemu sama partnernya ini di tengah jalan. Tetep nggak ketemu juga, ya itulah jadinya dia malah ketemu saya. Bayangkan dong janjian dari jam 8 pagi dan nungguin sampai jam 4 sore lewat, nggak kurang lama apa yak. Nggak sampai hati juga saya mau nyeletuk,"kenapa nggak ditelepon aja HPnya nek?" secara melihat penampilannya aja miris. Pakai sendal jepit kumel, bajunya kelihatan udah lusuh banget, bawahannya kayak semacam kulot warna merah yang nggak kalah kumelnya, sambil menyelempangkan tas yang udah ngelupas-ngelupas kulitnya.

Nenek ini usianya udah 71 tahun ternyata, giginya hanya tertinggal 1 buah saja. Dia ngotot harus bertemu dengan si partnernya ini karena harus membayar uang kontrak rumah yang masih kurang, maka itu dia mau jualan tas daur ulang. Tinggal seorang diri, dulu punya anak satu. Suaminya sudah meninggal sejak anaknya berusia 4 tahun. Dulu ekonominya tidak seperti sekarang katanya, dia dulu masih muda, kuat bekerja apa saja untuk menghidupi dirinya dan juga anaknya. Anaknya ini sempat kuliah, kedokteran cita-citanya ingin jadi dokter spesialis penyakit dalam. Masih terbayang matanya si Nenek kelihatan bersinar waktu cerita tentang anaknya ini, ada sekilas kebanggaan di matanya. Tapi itulah mimpi hanya indah dibayangkan saja. Awalnya tahun 1997 saat ada isu BCA akan dilikuidasi dia menarik semua tabungannya, lalu dibelikannya dollar dan emas, ekonominya mulai agak goyah saat itu tapi nenek ini nggak pantang menyerah. Tahun 1998 terjadi kerusuhan yang mana rumah dan harta bendanya ikut ludes hancur dijarah orang. Maklum dia orang Cina, yang mana seperti kita tahu kerusuhan 1998 banyak memakan korban dari warga keturunan. Sejak itu hidupnya berbalik 180 derajat. Yang memang sudah susah jadi semakin susah, ditambah lagi anak semata wayangnya yang ingin menjadi dokter, depresi karena keterpurukan itu. Tahun 1999 anaknya meninggal dunia, tidak sanggup menanggung beban hidup.

TT.TT

Meweeeekkkk

Iyah saya emang cengeng, tapi cerita nenek itu buat saya sedih.

Selesai dia cerita dan partnernya belum muncul juga, akhirnya dia pamit ke saya mau meneruskan jalan lagi ke arah sarinah dengan harapan bertemu dengan partnernya ini di jalan.

Saya sempat tanya kenapa nggak naik bis aja, dia bilang dia hanya bawa uang untuk ongkos berangkat dan pulang. Uangnya hanya tersisa 2000 saja untuk ongkos pulang. Lalu dia pamit. Sebelum dia pergi saya sempat menyelipkan selembar uang yang tidak banyak jumlahnya, untuk nanti dia beli minum.

Entahlah apakah nenek itu jadi bertemu dengan temannya atau tidak, semoga dia tetap diberi kesehatan sehingga bisa menghidupi dirinya sendiri.

Lagi-lagi nurani saya tersentil, nenek tua yang udah 71 tahun aja masih semangat untuk terus hidup seberat apapun kesulitan yang dia hadapi. Lah saya, umur masih kepala 2, punya pekerjaan tetap, penghasilan yang mencukupi, ada keluarga yang bisa jadi tempat sharing, punya sahabat yang mau nampung semua curhatan saya, terkadang masiiihhh aja suka ngeluh. Hari ini Tuhan mengirim Nenek tua itu untuk kasih pelajaran hidup lain buat saya. Alhamdulillah saya masih diberi nikmat yang luar biasa sama Tuhan, kembali disadarkan, hidup itu selalu tentang bersyukur apapun yang kita terima.

2 komentar:

  1. Nama gue disebut-sebut tapi ko ya korelasinya rada kurang menjual? *mikirin pencitraan* *telat* *yang penting usaha*

    BalasHapus
  2. hahahaha ga tau kenapa di otak gw ke setnya segala hal yg mengibakan itu ingetnya elo :P

    BalasHapus