Jumat, 25 Maret 2011

Curcol plus janji review

Akhirnya Friday night juga donk!! Minggu ini buat saya minggu yang nggak biasa. Serba padat dan hectic banget. Ditambah lagi saya sakit, campur-campur dari yang tadinya nggak bisa pup, sampai jadi diare gara-gara minum obat pencahar, terus bersambung ke panas dalam, flu, sariawan, radang tenggorokan, gongnya hari Selasa demam ikutan gabung, jadilah saya sempat nggak masuk. Sekarang sih tinggal bersisa flu sama sariawannya aja.

Amit-amit yah ternyata sakit flu yang pakai pilek sampai meler ituh, dulu (kesannya lama banget) saya suka ngiri sama orang pilek yang bisa nyusrutin ingus (nggak penting emang). Bukan apa-apa, saya nih tipe yang kalau flu, si ingusnya nggak bisa keluar, tapi berasa ada ingusnya, tapi nggak bisa disusrutin gitu, bikin keki kan jadinya. Ternyata kalau jadi manusia tuh emang harus hati-hati kalau bikin harapan atau menggumam sesuatu. Tuhan nih kasih pelajaran ke saya sekarang, sakit flu yang sampai meler si pileknya ini. Dan apa yang terjadi?

CAPEK YA TERNYATA KALAU BERINGUS

Dan yang membuat saya kesel banget, kenapa?

1. Flu sampai pilek yang ingusnya meler itu berarti BOROS TISU!!
2. Hidung bisa lecet karena berkali-kali harus nyusrut ingus

-_____-

Doakan saya ya kawan, biar saya cepet sembuh dan nggak lagi-lagi terjangkit si flu beserta ingus-ingusnya itu.

Eh kok jadi bahas ingus yah...oke mari kita beralih ke topik yang lagi hot-hotnya. Jadi saya lagi menghitung jam, hari Minggu Mama Papa saya mau berlibur yang entah berapa lama perginya, antara 2 minggu sampai 1 bulanan.

BERDUA SAJA!!

Sebelumnya juga udah sering mereka berdua pergi liburan berduaan aja, dan kita si anak-anak diem di rumah beraktivitas seperti biasa. Tapi... nggak tahu kenapa, mood saya lagi nggak bagus banget belakangan ini. Lagi nggak pengen ditinggal-tinggal, pengennya diperhatiin, dimanjain, pokoknya nggak pengen deh kalau sampai kehilangan perhatian. Saking sedihnya saya tadi sampai curhat sama Om ini, apa yang terjadi??? Dia nggak banyak komen, tapi ada 2 kata yang bikin saya sampai terbengong-bengong. Dia bilang saya BITCHY and SPOILED!!

-____-

Yaaaa emang saya lagi pengen dimanja-manja kok, salah? Ini faktor saya lagi sakit plus mau masuk fase PMS (salahkan saja terus si PMS ti!). Okay...memang curhatan saya siang tadi sangat-sangat menunjukkan betapa egois dan nggak peduliannya saya. Meskipun gitu, saya masih tetep usaha ngelobi ortu saya buat mundurin hari berangkatnya yang tampaknya sia-sia juga.

Lho udah sepanjang ini saya ngetik ternyata curhatan semua yah isinya :P. Padahal kan niat saya ngeblog kali ini mau bahas soal si film Thailand berjudul Friendship itu. Maaf ya, itu tadi prolog panjang bener prolognya.

Film dibuka dengan pertemuan 6 orang sahabat, mereka dulunya sama-sama berada di sekolah yang sama, melihat seragamnya yang mana siswa laki-lakinya pakai celana pendek, saya menyimpulkan mereka berada di SMP yang sama. Enam orang sahabat ini terdiri dari Singha, Pong, Song, JudDuang (mereka 1 geng dari jaman SMP, biang ribut) dan dua orang lagi adalah Kanda dan Jack (2 siswi yang deketnya kadang-kadang aja, karena terkadang mereka kesal dengan betapa annoyingnya kelakuan geng rusuh itu). Pertemuan malam itu temanya mau membahas mengenai acara reuni untuk sekolah mereka dulu. Jadilah topik pembicaraannya nggak jauh-jauh dari nostalgia masa sekolah. Mulailah alur filmnya mundur ke masa-masa sekolah mereka dulu.

Cerita sebenarnya baru dimulai ketika Singha mulai berbicara mengenai Mituna. Mituna ini adalah siswi pindahan yang kebetulan berada satu kelas dengan ke-6 orang ini. Cantik dan nggak banyak ngomong, jarang ngomong tepatnya. Mituna duduk satu bangku dengan Jack, berada di baris yang bersisian dengan geng rusuh itu. Dari awal Jack sudah langsung memperingati Mituna agar tidak percaya dengan apapun yang diucapkan oleh Singha. Tahu kenapa? Singha ternyata tipe siswa playboy, yang selalu mendekati siswi-siswi cantik di sekolahnya. Sayangnya Singha selalu memakai kalimat rayuan yang sama setiap kali mendekati siswi-siswi incarannya, yang membuat Jack serta Kanda tidak habis pikir, bagaimana bisa siswi-siswi itu percaya dengan rayuan-rayuan Singha. Yang membuat saya ngakak menonton adegan ini adalah saat Jack dengan begitu fasihnya mengucapkan kalimat yang sama di saat bersamaan ketika Singha yang berada di seberang halaman sekolah sedang merayu seorang siswi. Aduhhh...harusnya Singha dibekali buku direktori merayu gadis :D.

Penampilan ternyata menipu, Singha yang diperankan oleh Mario Maurer yang kakek-kakek buta aja tahu gimana gantengnya dia meskipun dia bersikap sok-sok playboy, akhirnya mengalami juga yang namanya jatuh cinta beneran. Sayangnya kali ini dia jatuh cinta dengan Mituna si siswi baru yang jarang ngomong. Berbagai cara dia coba untuk bisa membuat Mituna mau mengatakan satu saja kalimat padanya, tapi tetap nggak berhasil. Sampai suatu ketika, dia membahas menanyakan mengenai ayah Mituna yang seorang direktur sebuah perusahaan besar. Tanpa diduga, Mituna benar-benar mengeluarkan suaranya, dalam bentuk kemarahan. Singha bingung nggak ngerti kenapa juga Mituna mesti marah, dia jadi makin penasaran. Di suatu kesempatan, dia mengikuti Mituna pulang sekolah untuk sekedar tahu dimana rumahnya. Kehidupan Mituna yang sebenarnya, tidak dia perkirakan. Mituna tinggal di sebuah rumah sederhana yang sudah banyak rusak di sana-sini, bahkan Mituna harus membetulkan atapnya yang rusak sendiri.

Hubungan Singha dan Mituna mulai membaik, lagi-lagi karena kebetulan. Klise banget, Singha mencoba mengajak bicara Mituna sambil mengikuti Mituna pulang ke rumahnya, tiba-tiba ada gerombolan yang tawuran. Dan dreng...dreng...dreng... Singha dengan sigap langsung meluk Mituna ngelindungin dari serangan nyasar gerombolan itu. Berdamailah mereka. Akhirnya dimulailah kenangan-kenangan manis masa sekolah Mituna dan Singha. Dari mulai bantuin benerin rumah Mituna bareng sama geng berenamnya itu, bantuin ngadain semacam baksos yang sering Mituna lakukan, pulang sekolah sama-sama, jadi volunteer di yayasan yang sepertinya milik Ibunya Mituna.

Kehidupan mituna memang benar-benar mengharukan, Ayahnya benar seorang direktur sebuah perusahaan besar. Tapi sayangnya Mituna tidak merasakan kenikmatan yang dinikmati oleh Ayahnya, sejak Ayahnya meninggalkan Mituna dan Ibunya karena sebuah kecelakaan. Suatu hari Mituna sekeluarga pergi untuk berlibur, dan terjadi kecelakaan, Ayah dan Mituna hanya mendapatkan luka kecil, tapi tidak dengan Ibunya. Ibu Mituna harus kehilangan pendengaran dan suaranya, tak lama setelahnya Ayahnya pergi meninggalkan mereka. Sedih banget, kejam banget seorang ayah bisa meninggalkan keluarganya dan lebih memilih harta dan martabat. Sejak saat itulah Mituna jarang berbicara, dia lebih sering menggunakan bahasa isyarat seperti yang digunakan oleh Ibunya. Cerita kelam Mituna ini mengubah sikap Singha secara menyeluruh, dia menjadi lebih bijak dan perhatian. Bahkan Singha belajar bahasa isyarat secara otodidak demi bisa berkomunikasi dengan lancar bila bertemu Mituna.

Kalau udah manis-manis begini pikiran penonton pasti dibawa ke imajinasi yang manis-manis juga kan. Tapi nih film nipu, lagi manis-manisnya, ada hal yang harus membuat Singha dan Mituna berpisah. Ayah Singha memutuskan memindahkan usahanya dan otomatis keluarganya pun harus ikut pindah, Mituna juga tiba-tiba Ayahnya yang sudah lama tidak memberi kabar, mengutus seseorang untuk meminta Mituna bersama Ibunya pindah ke sebuah daerah dimana disana sudah disiapkan rumah untuk mereka berdua. Jadilah mereka hanya sempat bertemu sebentar di sekolah dan saling berjanji untuk bertemu lagi saat pengumuman kelulusan. Saya agak lupa, kalau tidak salah ada sesuatu yang ingin diberikan oleh Mituna kepada Singha di hari pengumuman tersebut. Dasar film... selalu aja waktunya nggak match, Singha menunggu-nunggu Mituna, tapi yang ditunggu nggak kunjung datang, begitu dia pergi eh Mituna nya datang. Singha nggak putus asa, dia pergi ke rumah Mituna, rumahnya kosong, Singha ninggalin pesan di kertas terus diselipkan di pagar rumah Mituna, dan kertasnya terbang! Mituna juga pergi ke rumah Singha, rumahnya udah kosong karena memang keluarga Singha sudah pindah semua. Ujung-ujungnya mereka sama-sama nunggu di taman tempat mereka biasa ketemu TAPI di waktu yang berbeda! (-___-")

Oh ya...baru ingat, jadi waktu Mituna masuk sekolah pertama kali, di hari yang sama ada siswa pindahan juga. Awalnya siswa pindahan ini jadi bahan konyol-konyolan si geng rusuh, tapi sebuah kejadian dimana si siswa baru ini nolongin geng rusuh, sejak itu mereka jadi berteman akrab. Di malam sebelum pengumuman kalau nggak salah, siswa baru ini sama si geng rusuh, pergi mau minum-minum ceritanya. Dengan baik hatinya si siswa baru menawarkan diri untuk beli minumannya dan si geng rusuh nunggu di TKP. Jarak yang cuma tinggal 10 meteran gitu, tiba-tiba ada geng berandalan (ini serius penjahat abg gitu, anggotanya 3 orang) salah satu dari mereka dendam sama si siswa baru ini, lalu menusukkan pisau ke perut si siswa baru. Kejadian ini disaksikan sama si geng rusuh. Sayang mereka nggak berhasil nangkep si geng berandalan, si siswa baru ini meninggal di hadapan sahabt-sahabatnya. Asli sedih banget waktu ada adegan dimana mereka berempat duduk diam sambil memutar kenangan bersama si siswa baru.

Balik ke soal tunggu menunggu di taman, Mituna sama Singha sebenarnya menunggu di waktu yang hampir berdekatan. Mituna dulu nunggu di taman sampai akhirnya hujan dan memutuskan pergi. Singha justru menunggu saat hujan mulai turun, terus nunggu nggak peduli badannya udah basah semua. Kalau nggak ada polisi yang menyuruh dia untuk pergi, Singha nggak akan pergi. Kenapa ada polisi di taman malam-malam? Sepertinya baru terjadi tindakan kriminal di sekitar taman itu, dan tebak siapa penjahatnya? Si Geng Berandalan itu. Saya waktu nonton film ini tiba-tiba merasakan feeling nggak enak. Karena sebelumnya waktu Mituna memutuskan pergi di saat hujan turun, dia diikuti oleh geng berandalan itu.

Settingnya kembali ke masa-masa mereka sudah dewasa, di sebuah pesta reuni. Semua datang kecuali Mituna. Teman-teman Singha menghiburnya, ada juga yang bilang mungkin Mituna sudah menikah memiliki suami dan anak sehingga memutuskan untuk tidak datang. Singha yang memang berharap banyak supaya bisa bertemu Mituna hanya bisa pasrah dan kembali beraktivitas seperti biasa menjalani hari-harinya.

Saya lupa apa pekerjaan Singha, yang pasti pekerjaannya itu seperti badan-badan amal yang memungkinkan dia untuk pergi bertualang ke seluruh negeri. Dia pergi ke sebuah daerah, ada misi amal lagi yang harus dia dan timnya lakukan. Di yayasan tersebut dia menemukan tanaman bungan yang dulu pernah dia kasih ke Mituna (bahkan di halaman rumah Mituna pun tumbuh tanaman bunga ini). Tak diduga, Singha bertemu dengan wanita setengah baya yang tak lain Ibunya Mituna. Ibu Mituna bercerita banyak tentang kehidupan mereka berdua setelah pindah (secara Singha udah jago banget bahasa isyarat), dari ceritanya itu akhirnya diketahui Mituna sakit keras dan nggak memungkinkan untuk pergi-pergi.

Bertahun0tahun mencarai, Singha bertatap muka kembali dengan Mituna. His 1st and only love. Nggak bisa menjabarkan secara rinci oborlan mereka, yang pasti kondisi Mituna sangat memprihatinkan. Dia hanya tergolek lemah di tempat tidurnya, dan Singha tetap menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Mituna menyerahkan buku diarynya pada Singha, di situ tertulis semua perasaan Mituna pada Singha. Juga cerita mengenai bunga yang pernah Singha berikan dengan sembunyi-sembunyi. Mituna tahu bunga itu dari Singha, lalu sengaja mencari bibit bunga itu dan menanamnya di halaman rumahnya. Sejak saat itu bunga tersebut jadi bunga favoritnya. Lalu apa yang terjadi????

Setelah semua rahasia, pertanyaan-pertanyaan sepanjang film terjawab.

Mituna MENINGGAL DUNIA!!

TT.TT

Karena memang katanya dia menunggu Singha datang untuk memberikan buku tersebut.

Dan perasaan nggak enak saya soal adegan di taman itu terjawab juga, Mituna sakit AIDS. Sepertinya kejahatan yang dilakukan geng berandalan itu adalah memperkosa Mituna.

Asli ini film sedih banget, isinya lengkap banget soal arti persahabatn, keluarga dan cinta. Kalau ada waktu lumayan senggang dan mood lagi bagus, coba tonton deh. Dan mohon ya suara cemprengnya diabaikan saja. Satu itu yang masih bikin saya berasa nggak nyaman nonton film Thailand, suaranya, OMG sangat sangat cempreng.

Okai sepertinya ini bakal jadi posting terpanjang sepanjang sejarah ngeblog saya. Disudahi dulu, mari tidur. Nite all!!! :)

5 komentar:

  1. kalo lagi meler emang gak enak... apalagi kalo bersin2 terus. badan bisa rasanya cape setengah mati...

    kenapa gak ikutan papa mama nya pergi liburan? hehehe....
    gpp lah ditinggal... yang penting, jangan lupa minta dibawain oleh2... :P

    moga2 cepet sembuh ya!

    BalasHapus
  2. makasih doanya ko Arman

    terlalu lama liburannya, sayang cutinya, oleh-oleh sih wajib bawa kalo balik liburan :D

    BalasHapus
  3. wah baru selesai nonton film friendship ni, langsung cari tau mituna sakit apa, tenyata aids ya? ko bisa nyimpulin dia diperkosa sama geng nakal itu n tiba2 aids? darimana sumbernya?

    BalasHapus
  4. soalnya kan waktu Singha nyari2 Mituna, ada gerombolan tiga orang yang kayaknya berbuat jahat ama Mituna itu, aaaah sediiih bangeeeet

    BalasHapus
  5. Bukannya sebelum mituna dket sm singha, singha liat mituna ke apotek?

    BalasHapus