Senin, 30 Januari 2012

Terima kasih Mello :)

Sebutlah namanya Mello (bukan nama sebenarnya), dia sepertinya satusatunya lakilaki yang bertahan mau bersahabat dengan saya :) Bahkan dengan senang hati dia membolehkan saya bercerita tentang dirinya di sini, saat tadi saya meminta ijin, padahal dia belum tahu apa yang sebenarnya ingin saya ceritakan di sini mengenai dirinya.

Sabtu sore kemarin, di tengah situasi cuaca Bogor yang nggak jelas, hujan angin, tibatiba terang, lalu hujan lagi. Akhirnya saya membulatkan tekad untuk berangkat juga di bawah rintik hujan yang makin menderas. Nggak masalah, toh saya suka dengan hujan :) Sampai di lokasi yang disepakati sebuah mall besar di kota Bogor, TKP penuh sesak, AC sepertinya tidak bisa memberikan kesejukan pada para pengunjung, melipirlah saya, Mello dan seorang sahabat perempuan saya ke sebuah kafe di dekat mall tersebut.

Obrolan satu menyambung obrolan yang lain dan terkuaklah sebuah kenyataan yang keluar dari mulut seorang Mello yang membuat saya terkagetkaget dan sedikit shock.

Beberapa waktu belakangan ini kondisi diri saya sedang tidak begitu baik, dalam artian ada banyak hal yang ingin sekali saya hujat, kenapa sih mesti begini kenapa sih mesti begitu, kenapa plan yang ini nggak bisa sempurna dan lainlainnya. Sebuah cerita yang mengalir dari mulut Mello sore itu membuat saya kemudian tersadar, saya lupa untuk melihat ke sekitar saya, hei ternyata nggak cuma lo kok yang lagi mengalami kesusahan. Saya kemudian bersyukur, bukan juga mensyukuri kesusahan yang dialami sama Mello. Cuma yaahh dengan apa yang dia alami saya berfikir "untung bukan gue yang ngalamin halhal pahit itu".

Mello ini memang agak ajaib, lakilaki tapi nggak seperti lakilaki pada umumnya -iyaa marii digantung gue kalau dia baca ini- di saat kebanyakan lelaki di luar sana lebih mendahulukan logikanya, justru dia lebih mendahulukan hati baru kemudian berfikir dengan logikanya -ehh-. Track recordnya untuk masalah percintaan, nggak bisa dibilang bagus ya, tapi masih jauh lebih baik dari nilai yang saya dapat. Yang saya salut dari dia, nggak pernah kapok untuk memulai dengan orang baru yang lebih baik, dengan harapan hubungan baru tersebut akan berjalan lebih baik dan berakhir seperti yang diimpikannya. Sebutlah perempuan yang kurang beruntung ini Abege, perbedaan usia mereka yang cukup jauh, membuat saya waktu mendengar berita bahagia itu terkagetkaget. Saya pikir hubungan keduanya hanya sekedar luculucuan aja, eh ternyata beneran ya diseriusin. Sebagai sahabat yang baik saya ikut berbahagia dengan kebahagiaannya. Waktu berlalu tanpa terasa, Mello pun sudah tidak pernah muncul untuk merecoki dengan segala kemellowan yang biasanya dia muntahkan ke saya. Ya saya kan tipe yang "no news is good news", engingeng pertemuan kemarin membuat saya kaget, ternyata hubungannya dengan si Abege tidak berjalan seperti yang direncanakannya. Terkuaklah soal hubungan backstreet dari orangtua si Abege, juga perbedaanperbedaan yang menghalangi mereka berdua, yang sampai membuat Mello termellowmellow lagi, hiks...

Ada ucapan Mello yang bikin saya pengen nangis sebenernya sore itu, cuma kan dia mengenal saya sebagai si mulut tajam, bukan si perempuan cengeng yang gampang terbawa suasana. Dengan segala kesulitannya, Mello ternyata memutuskan untuk bertahan akan memperjuangkan dan menunggu si Abege, duuhh. Sebelum bertemu dengan si Abege, Mello pernah memohon dan mengeluh sama si pencipta, yang intinya

"gue capek harus bertemu dengan mereka, yang lagilagi salah, bukan dia, bukan dia...please biarkan gue sendiri dulu sekarang ini, gue capek."

Tibatiba cluk...datanglah si Abege ini, yang mana ceritanya sudah saya ceritakan tadi. Mungkin lagilagi orang yang salah -mungkin ya, karena ceritanya masih belum selesai- ya entah sih yah kalau ternyata apa yang sedang Mello alami ini hanya bagian dari ujian menuju tujuan yang dia inginkan. Tapi tetap saja, menurut saya sih better to fix something that hurt you than holding for something that uncertain. Dan makasih lho Mel, buat cerita sore itu yang membuat saya bersyukur, lebih baik nggak punya apaapa daripada punya apaapa yang bikin kenapakenapa.

Dan Mama yang belum pernah bertemu sama sekali sama Mello, cuma tahu dia dari ceritacerita saya selewat tentang Mello, tibatiba mengeluarkan sebuah kalimat yang bikin saya terperangah hari Minggu kemarin. Setelah tanya kabar Mello karena Mama tahu saya habis bertemu dengannya, Mama mengucap

"Yang Mama tangkep dari cerita kamu tentang Mello, dia itu sebenarnya pria baik ya Tis. Hmm... sayang dia berbeda, kalau nggak bisa tuh..."

Bikin saya nganga, kaget, dan berfikir "cerita apa yang pernah gue ceritain ke Mama sampe Mama berfikir Mello pria yang baik?" -cukup Mel, ngga usahlah lo memakimaki :P- Dan lagilagi soal perbedaan itu yah yang muncul :) Seperti yang saya bilang sore itu "setiap keluarga punya aturan dan pandangannya masingmasing". Selamat berjuang Mel, walaupun saya sih berharap dirimu segera sadar dan memutuskan move on, she's not into you :)

Tulisannya agak melantur ini, mungkin akan susah dimengerti, karena memang nggak jelas intinya apa. Saya menulis ini memang dengan tujuan supaya Mello baca dan tahu apa yang ada di pikiran saya sore itu. Sepanjang Sabtu sore itu, lidah saya kelu nggak bisa menanggapi ceritaceritanya. Sepertinya saya sudah tidak setega dulu untuk bisa berkata tajam mengkritik dia, hihihi.

Have a nice day :)

18 komentar:

  1. baru pertama kali kunjungan ke sini.
    kayaknya tiesa lebih banyak teman bloggernya ya?

    wah keren ya punya temen artis gitu. itu mello yang penyanyi itu kan? (^_^)v

    BalasHapus
    Balasan
    1. ralat, ini kunjungan kedua lagi Den :)
      baru belakangan ini kok, mulai nambah temen bloggernya

      itu ELLO, bukan MELLO *jitak* :P

      Hapus
  2. eh kedua ya? lupa, kapan pertama nya ya?
    udah lama gak blogwalking kemana2 soalnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah lama sih, akhir tahun lalu kalau nggak salah :)

      Hapus
  3. hmmm .... kadang memang kita nggak tahu kemauan orang lain ya, membayangkan cinta mereka yg mungkin mnrt kita nggak baik kalau diteruskan dsb, tapi yg melakoni justru merasa kuat dan mampu utk mempertahankan cinta itu.Endingnya mungkin bisa baik dan bisa juga sebaliknya
    menurut pengalamanku sih, boleh kita merasa orang yg kita cintai itu adalah orang yg tepat utk kita, tapi kita hidup di tempat yg horizontal, yg tahu persis siapa pasangan hidup yg terbaik buat kita itu hanya yg di atas, jadi lagi lagi mnrt pengalaman pribadiku, mungkin lebih baik berdialog vertikal dan menanyakan langsung siapakah belahan jiwa buat kita karena yg di atas bisa melihat langsung siapa siapa manusia itu sedang kita cuma bisa mereka reka sehingga kita ndak salah pilih dan menghabiskan banyak waktu dgn orang yg salah dan mungkin juga bergelimangan masalah juga.... dan hasil dari dialog vertikal itu sudah aku nikmati Tiesa, aku dikirimi laki laki luar biasa yang nggak bisa kuuraikan satu persatu kebaikannya karena mengular, dialog vertikal di akhir sepertiga malam itu sungguh luar biasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. si Mello udah berkunjung tadi kesini Mba El, dan baca tulisan ini, intinya sih dia tetap berprinsip "kalo nanti gue move on, gue bakal move on karena hati gue" yahh saya sih sebagai orang luar dengan status sahabatnya cuma bisa mendoakan semoga si Mello baikbaik saja

      pesan Mba El soal obrolan vertikal itu makjlebb,tapi harus dibarengi sama usaha juga Mba, betul ngga? *nanya bak mahasiswa yg ga luluslulus mata kuliah bernama jodoh*

      Hapus
    2. kalau mnrt pengalamanku sebelumnya aku udah berusaha, tapi lupa menanyakan, justru setelah berdialog vertikal itu aku lalu ditunjukkan begitu saja , rasanya usaha yg aku lakukan sebelumnya malah sia sia, krn nggak berhasil semuanya.

      Hapus
    3. aku malah seringnya abis usaha, berdialog eh hasilnya langsung ditunjukin, bukan dia...
      berkalikali begitu terus, jadi sekarang, ya udahlah, liat nanti saja :)

      Hapus
  4. Setuju ma Mbak Ely, aku juga so amaze dengan suamiku sekarang. Setelah dapat pengalaman dengan beberapa cowo yang 'he's (they're) just not that into me' (btw, aku punya lho bukunyaaa!! *keliatan betapa labilnya aku pas single hahahaha*). Akhirnya doa semenjak jaman SMA (doa minta suami hihihihi) dikabulkan, dan he has all the criteria that I asked! :D *lho kok jadi curhat sendiri*

    Aku juga kadang agak gemes kalo ada temen yang pacaran dengan buta, dan nggak pake logika sama sekali. Alasannya cuma karna cinta dan nggak mo kehilangan atau being a single. Padahal kan kalo dia bertahan dengan orang yang salah, maka kesempatan dia ketemu orang yang tepat malah lebih kecil, ya kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. heiii aku juga punya ebooknya, tersimpan rapih di ponsel hahahaha *katauanlah kalau ngga kalah galau*
      ohemji Chita, sejak SMA berdoanyaaahh

      sebenernya si Mello sudah sangat paham dengan semua keadaan ini, betapa bodohnya dia pun dia menyadari, tapi ya itu, lagilagi dia mensejajarkan hati dengan logika, ya wis lah berakhir dengan all the logic in the world won't make sense

      Hapus
    2. hahahahaha... super banget kan? *efek nonton MTGW*

      Itu gara-garanya ibuku suka bilang, "kalo mo minta apa-apa berdoa dari sekarang." Lha sebagai ABG labil yah, aku pas itu takut aja deh kalo dapet suami yang err, maklum banyak baca kolom berita kriminal.

      Udah gitu ditambah efek baca 'the 7 habits...' *judulnya panjang :p*, jadi berdoanya makin kenceng. Tapi itu cuma pas SMA kok, pas kuliah dan kerja kayanya aku udah lupa tuh doa minta suami yang blablabla itu, ganti doa minta yang laen. *makin keliatan labilnya* hahahahaha... :D

      Eh alhamdulillah yah, dapetnya suami yang sesuai dengan permintaan jaman SMA itu. Subhanallah... :)

      Hapus
    3. subhanallah, senang sekali jadi kamu Chita :)

      Hapus
  5. mungkin ini proses pembelajaran juga buat si mello tentang bagaimana bersikap lebih baik dalam hubungannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk bisa memutuskan mengikuti kata hati atau berjalan sesuai logika :)

      Hapus
  6. oh wow, komentar mama-mu..... sungguhlah... hahaha...


    *pernah punya pengalaman serupa*

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahahaha berharap salah denger saat itu *kalo si Mello baca, ngamuk pasti :P*

      Hapus
  7. "lebih baik nggak punya apaapa daripada punya apaapa yang bikin kenapakenapa"

    What the... banyak amat "apa"-nya!

    BalasHapus