Sabtu, 25 Februari 2012

Arsip yang tertinggal dari Januari 2011

Seminggu ini lagi sibuk banget, capek banget dan akhirnya nggak punya tenaga lagi buat ngetikngetik di sini. Maaf banget belum bisa berkunjung ke 'rumah' sahabat yah, mudahmudahan dalam waktu dekat bisa segera berkunjung ke tempat kalian.

Kemarin waktu saya sedang membersihkan arsiparsip yang sudah tidak diperlukan. Saya menemukan arsip lama, yang pernah saya ikutkan ke sebuah proyek menulis. Akhirnya sih karya saya terpilih juga jadi salah satu tulisan di dalam buku tersebut. Nggak tahu boleh apa ngga yah mempublish nya di blog sendiri, tapi ya udahlah saya share di sini aja. Kalau nanti ditegur baru saya hilangkan tulisannya.

Berikut tulisan yang saya ikut sertakan dalam proyek tersebut.

Jakarta, 04 Januari 2011

Dear Ndut...

Banyak dugaan yang berserakan di kepalaku mengenai reaksi kamu saat menerima surat ini. Senangkah? Bingung? Atau malah kesal hingga tak sudi untuk membaca kertas ini. Sungguh aku berusaha tak mau peduli bagaimana tanggapanmu, aku hanya ingin mengeluarkan semua kata yang masih belum tuntas kuucapkan tanggal 28 Desember kemarin.

Sebenarnya hubungan kita terlalu bias, siapakah aku dan siapakah kamu lalu apakah pernah ada kita? Atau "kita" hanya ada di imajinasiku saja? Jika hanya sebatas sahabat, genggamanmu terlalu erat. Kalaupun sebagai kekasih, kamu tidak menegaskan sebuah komitmen yang meyakinkan. "harus ya untuk jadi sepasang kekasih ada pertanyaan 'kamu mau jadi pacar aku?' terlalu SMA sayang, apa nggak bisa kamu ngerasain feelnya?" masih aku ingat jelas ucapanmu itu. Helloo...honestly i'm not a fortune teller, aku nggak bisa baca pikiran kamu dan hati kamu! Aku hanya perlu tahu "Ada kita atau hanya kamu dan aku saja?".

Jarak yang selalu jadi alasan kamu tidak yakin denganku, kondisi tempat kamu berada sekarang menambah argumen kamu yang makin tidak masuk akal. Dan akhirnya aku mementahkan semuanya bulan lalu, aku datang untuk kamu, yang kata kamu "dalam mimpi pun aku nggak pernah membayangkan kamu benar-benar akan berdiri di hadapanku, di kota kecilku". Tapi ternyata semuanya tetap tidak juga meyakinkanmu. Kamu sudah berhasil merubahku dari seorang manusia penuh gengsi menjadi perempuan murahan karena sikapmu.

Cukup!! Tidak ada lagi yang perlu aku lakukan dan bukan juga semuanya menjadi sia-sia. Aku tetap tidak menyesali kedatanganku waktu itu, justru hal itu membukakan mataku yang sempat buta sesaat olehmu. Bagiku semua selesai, tak peduli keluargamu sudah jatuh cinta setengah mati padaku. Tidak mau tahu bagaimana kamu nyaman berada di lingkaran keluargaku. Hal itu tidak akan merubah kamu dan aku menjadi kita. Aku lelah berjuang sendiri tanpa kamu. Bukan soal bisa atau tidak bisa, tapi semuanya tentang mau atau tidak mau. Dan ketidakyakinanmu sudah menular padaku, keyakinanku hilang dan kini si "mau" sudah berubah menjadi "tidak mau".

Aku tahu kamu masih mencari-cariku, sms, telepon, Facebook, Yahoo massanger semua aku mentahkan. Aku tidak mau ada komunikasi lagi denganmu. Perhatianmu akan membuatku lemah dan kembali jadi murahan. Lebih baik begini, kamu dan aku melangkah di jalan masing-masing. Jikalau Tuhan memang menjodohkan kita, suatu saat nanti pasti tangan ajaibnya akan membantu kita untuk bersama lagi.

Sudahlah aku lelah untuk mengingat lagi semua yang pernah terjadi. Mungkin kamu benar, perempuan agar-agar wangi macam aku yang selalu jadi anak Papa nggak akan bisa tinggal di desa kecil itu. Tapi sesungguhnya yang mendasari keputusanku untuk akhirnya mengakhiri semuanya adalah kita berdua terlalu pengecut dan takut saling melukai. Setelah membaca surat ini berjanjilah untuk tidak mencariku lagi, kamu terlanjur membuat sayatan baru di hatiku dan luka itu perlu waktu hingga sembuh. Semoga kamu sehat selalu di sana.

Dari sesama pengecut,

Daddy's little daughter

Ps: foto itu sudah aku hapus semua dari memoriku, tidak ada kenangan maka tidak ada masa lalu, dengan harapan kamu juga akan segera menghilang dari ingatanku.

Secepatnya saya akan kembali, have a nice weekend ^___^

21 komentar:

  1. Cie... Keren, keren.. Masi ada kelanjutannya ga?

    BalasHapus
  2. mengukur seberapa kuat cinta tidak di atur kadar dari seberapa dekat & jauh kita dari pasangan kita melainkan seberapa punya komitmen yg kuat ketika kita menjalin suatu hubungan yg serius

    BalasHapus
  3. Tiesa...tanggal suratnya ditambah 1 hari lagi jadi tgl kelahiran bj-ku dech :D
    btw arsip yg beginian disimpan terus ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ohya?? wahh kebetulan banget yah :D
      justru ini juga nemunya karena pas lagi bersihin arsip mas :)

      Hapus
  4. ini projek dear papa yak? ahak.. seru ya :)

    BalasHapus
  5. Have a nice weekend juga...

    BalasHapus
  6. wah kunjungan siang nih mbak tiesa. . . .

    BalasHapus
  7. saya juga pengecut,,
    tapi saya anti melukai perasaan orang,hehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah keren jiwa bang rezky. . ..

      Hapus
    2. rezky, yakin kamu? siapa tahu tanpa sadar kamu udah melukai perasaan orang :P

      Hapus
  8. yah kok sad ending... Ceritanya yang happy ending dong Tiesa! *dilempar Korean wallet yang lucu-lucu itu* Hihihihihi... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau happy ending, ngga akan tercipta tulisan itu Chit :D

      Hapus
  9. ya, wanita memang butuh ketegasan!! dan sikap itu bukanlah jawaban pasti dari ketegasan.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena menunggu itu melelahkan :)
      lebih baik memastikan sebuah kegagalan daripada terombangambing dalam ketidakpastian #apasikh

      Hapus
  10. surat putus ya mbak??...
    menarik sekali aku bacanya sampai geleng2 kepala..hhehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmmm...maybe yes maybe not :)
      tidak ada awal bagaimana mungkin ada sebuah akhir?

      Hapus