Selasa, 07 Februari 2012

Mimpi seorang putri

Satu waktu seorang sahabat bertanya, "Lo cinta nggak Ti sama Indonesia?"
Saat itu saya blank, nggak bisa menjawab. Sejujurnya yang saya rasakan sampai saat ini, ada halhal yang membuat saya tidak merasa nyaman dengan negara ini. Simplenya gini, kita kerja di perusahaan A, gaji cocok, temanteman cocok, tapi entah kenapa suasananya nggak bikin enak. Perusahaan yang punya masa depan untuk berkembang jauh lebih hebat, dengan SDM yang berkualitas, juga punya SDA yang melimpah, tapi manajemennya kacau balau, gambarannya seperti itu. Dan itu juga yang menurut saya terjadi di sini. Ya siapa sih saya cuma anak kemarin sore yang juga nggak bisa bikin Indonesia mendadak bisa bayar semua utangnya, tapi itulah yang saya rasakan.

Ada apa tibatiba saya bahas tentang Indonesia, nggak saya banget mungkin ya :D Temanya kan soal cinta, kali ini cinta Indonesia.

Semuanya berawal dari keluhan seorang Ibu tentang mimpi anaknya. Sebutlah Ibu Beti, dia memiliki dua orang anak perempuan. Putri sulungnya sudah bekerja dan mampu menghidupi dirinya sendiri. Sedangkan putri bungsunya masih SMP kelas 3. Kedua putrinya diberikan kelebihan yang tidak biasa, kecerdasan otak dan juga minat di bidang olahraga yang berlebih, khususnya bulutangkis. Setahu saya putri sulungnya dulu aktif mengikuti turnamenturnamen bulutangkis dan hampir selalu menang, tapi kemudian begitu SMA dia memutuskan untuk berhenti dari aktivitas bulutangkisnya. Mimpinya terbentur realita, dia pun memilih untuk fokus kepada pendidikan formalnya dan mencari mimpi yang lain.

Beda halnya dengan si bungsu, entah karena usianya yang masih belia yang membuat dia belum bisa berpikir mengenai realita di luar sana atau memang tekadnya untuk menjadi atlet nasional. Memang bakat dan tekadnya sungguh besar, dia berhasil memenangkan turnamen dengan hadiah berupa beasiswa di sebuah Perkumpulan Bulutangkis (PB). Selain itu otaknya yang cemerlang membuat prestasi sekolahnya stabil tetap berada di tiga besar, meskipun dia harus sering membolos untuk bertanding di setiap turnamen. Hal inilah yang dikeluhkan Bu Beti pagi itu, dia mengkhawatirkan pendidikan formal si anak. Ibu Beti masih tidak percaya bahwa para atlet itu bisa hidup layak dengan hanya menjadi atlet. Cerita Ibu Beti membuat mata saya makin terbuka dengan halhal yang ada di luar sana, sudah sebegini parahnya penyakit di negara kita?

Sebagai seorang Ibu yang selalu mendukung mimpi anaknya, berangkatlah Bu Beti ke sebuah PB yang selalu mengingatkan kita sama merk rokok itu. Dan kenyataan yang dia dapat sungguh membuat miris. Ya memang anaknya mendapat beasiswa di sana, tapi itu tidak menjamin si anak untuk mendapatkan pendidikan formal secara layak. Begitu masuk, maka si pelatih yang mengatur apa yang si anak harus lakukan. Jam latihannya tidak mengijinkannya untuk bisa mengenyam pendidikan seperti layaknya sekolahsekolah pada umumnya. Ya seharusnya Ibu Beti bisa sadari itu dari awal. Pastilah PB itu tujuannya adalah mencetak generasigenerasi baru untuk menggantikan atlet lama yang sudah menurun kualitas permainannya. Hal yang saya pikirkan itu ternyata tidak seluruhnya benar. Generasi baru itu akan tergantung pada, dia anaknya siapa? Dia bisa bayar berapa? Bukan kepada, dia sebagus apa permainannya? Miris...

Ibu Beti menemukan kenyataan ini, saat bertanya ke PB tersebut. Memang gratis, semua fasilitas akan diberikan secara cumacuma, karena memang si anak mendapatkan beasiswa. Tapi si anak hanya akan menjadi sparing partner untuk para 'generasi terpilih' jika dari pihak si anak tidak memberikan 'pelicin' kepada si oknum. Bertahuntahun dia di sana, sehebat apapun dia, jika tidak ada 'pelicin' ya bertahuntahun nasibnya cuma mentok sebagai sparing partner saja. Mengerikan! Dan kamu tahu berapa nominal per bulannya yang harus diberikan kepada si oknum? Paling tidak 2,5 juta untuk mengamankan posisi si anak agar nasibnya nggak cuma jadi sparing partner. Itu baru kelas PB ya... Kalau nasibnya baik dan ada yang melihat kualitas bagus si anak, dia bisa naik tingkat untuk ikut seleksi di Pelatnas. Dan hal yang sama akan terjadi juga di Pelatnas. Mendengar hal itu saya kaget, masa sih sebegitunya? Mungkin hal itu hanya berlaku di PB satu itu saja, pikir saya pagi itu. Yang ternyata Bu Beti pun memikirkan hal yang sama saat berkunjung ke sana. Maka pergilah dia ke PB ibukota, yang ternyata sama saja. Bu Beti mulai pesimis, apakah mungkin anak bungsunya bisa mencapai mimpinya menjadi atlet bulutangkis nasional yang juga kemudian bisa bertanding di kancah internasional? Sedikitsedikit Bu Beti mulai memberi pengertian pada putri bungsunya, tapi rupanya si putri bungsu keukeuh ingin menggapai mimpinya itu, alihalih menurut yang ada si bungsu malah menuduh Bu Beti tidak mendukung mimpinya. Yahh... akhirnya Bu Beti weekend besok akan berangkat ke Bandung bersama si bungsu untuk mencari informasi di PB yang lain. Mudahmudahan di PB Bandung tidak ada permainan macam dua PB sebelumnya.

Dari cerita Bu Beti saya jadi paham sekarang, kenapa prestasi bulutangkis Indonesia demikian merosotnya. Dulu saya suka sekali olahraga satu ini, setiap kali ada turnamen internasional pasti saya selalu menonton. Tapi semenjak kualitas para atlet menurun saya sebagai penonton jadi malas. Bukannya nggak mendukung negeri sendiri, cuma kalau sudah tahu endingnya akan seperti apa, ngapain juga saya nonton. Mudahmudahan si bungsu bisa menggapai impiannya, sungguh sayang jika kualitas dan bakat yang dia miliki harus tersiasia. Padahal generasi baru ini sangat dibutuhkan untuk mengangkat lagi nama Indonesia di kancah internasional. Ke depannya juga semoga tidak ada lagi sumber daya manusia berkualitas yang terisasia dan malah dibajak oleh negara lain, karena negerinya sendiri menyianyiakannya. Sungguh sangat disayang jika sampai seperti itu.

Kesimpulannya, saya masih cinta kok sama Indonesia segimana pun seringnya saya ngedumelin negara ini :)

31 komentar:

  1. panjang sekali...
    rajin ini nulisnya..
    ya dong, meskipun begini harus punya sedikit nasionalisme..

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga ngga sadar, begitu selesai, ehh kok jadi panjang bener yah hihihi
      betul Tin, tetep harus ada sediiiiiiiiiiiikiiiiiiittttt nasionalisme :D

      Hapus
  2. iiihhh .. aku paling jengkel kalau ada cerita ttg uang pelicin, pengen tak gampar tuh orang !! orang 2 spt ini hrsnya dikasih pelajaran biar kapok soalnya banyaaaaaakk jumlahnya Tiesa, di mana mana, kasihan khan mereka mereka yang punya bakat dan pinter kalah bersaing dgn yg punya uang , ampun !

    BalasHapus
    Balasan
    1. ngga bisa Mba El, udah mengakar, susaaahhhh...
      kalau kata Papaku mesti dihabiskan dulu seluruh generasinya, kemudian dilahirkan lagi generasi yang baru yang benerbener bersih

      Hapus
  3. kata Aa gym.., soal sogok menyogok indonesia sdh tdk pnya malu lagi.., klo dlu2 sogokx dibawah meja tp sekarang diatas meja..., :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar sekali, udah umum, jadi biasa aja :(

      Hapus
  4. ih, bilangnya gratis koq ujungnya ada calo gitu yah? memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan kali ini.. hmmm gak nyangka, untuk program CSR sekelas PB Djarum (bener kan ya?) masih ada praktek oknum beginian.. moga ada tindakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas Gaphe, ternyata masih ada praktek seperti ini...
      ya mudahmudahan hanya beberapa saja jumlahnya

      Hapus
  5. wow! antara kaget dan gak kaget ngebacanya.

    awalnya kaget sih. gak nyangka kalo begitu kondisinya. jadi kalo gak bayar bakal jadi sparing partner doang ya...
    tapi dipikir2 lagi gak kaget juga sih secara apa2 di indo kan dijadiin ajang korupsi ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut cerita si Ibu itu praktek di lapangannya memang begitu ko Arman, miris banget yah :(

      Hapus
  6. salah satu hal yg membuat kemerosotan prestasi OR di negeri ini,, ya spt inilah ! Atlet yang sebenarnya berkualitas dan berbakat akan mentok krn "oknum2 kapitalis" yg menggurita di dunia OR kita. Banyak atlet "aspal" yg seharusnya belum saatnya "publish" sudah dipaksakan karena unsur KKN tersebut. Sangat memprihatinkan sekali...!!!
    Padahal dari segi follow-up dari pemerintah berupa reward buat atlet berprestasi sudah mulai berjalan dengan sangat baiknya, karena atlet sekarang tidak spt atlet jaman dulu...yg diabaikan begitu saja. Mungkin hal inilah yg menjadi "oknum2 kapitalis" mendapat celah untuk memainkan tangan2 kotornya mengkatrol atlet2 gurem ke tingakat nasional maupun internasional.....
    btw sya suka bilang Tiesa....inilah "KEUNIKAN" dari bangsa kita Indonesia. Padahal kita semua yakin bahwa negeri ini akan maju OR-nya bila semuanya mempunyai dedikasi dan loyalitas kepada bangsa dan negaranya...
    nice post Tiesa....met aktivitas ya ! jam berapa di publish nich, semalam sya "intip" belum ada nich postingan....hahahaha:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas ben, makanya setiap kali ada turnamen ini lagi ini lagi yang tampil, mending menang, lah ujungnya kalah juga
      menurut saya sih mending pasang generasi baru yang mulai kelihatan kualitasnya, gpp kalah, yg penting jam terbang dia tambah, pengalaman tambah, jadinya kan si orang baru ini bisa punya ukuran kualitas dia segimananya
      susah lah...ya semoga saja ya segera membaik :)

      Hapus
    2. Mas Bens sebagai pengamat bidang olahraga jelas mengerti hal ini. Saya baru tahu kalau ternyata atlet yang dipublish itu belum matang, lho. Baru dari komentar ini.

      Hapus
  7. oooowh saya baru tau skrg ternyata oh ternyata!!

    Pantesan akhir2 ini prestasi bulutangkis kita makin jeblok aja, ternyata di dalemnya sudah membudayakan kartel siapa yg kuat duitnya dia yg dapat. Suap atau pelicin seolah sudah mengakar dan menggurita di negri ini. Mengerikan....

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga kalau ngga garagara cerita Ibu itu, mana tahu hal begini terjadi juga di sana
      memang sangat mengerikan >,<

      Hapus
  8. miris banget ya...
    Mungkin ini akhirnya banyak orang-orang yang punya kemampuan dan berprestasi lebih memilih untuk hijrah ke negara lain yang bisa menghargai kemampuan mereka dengan baik. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya benar Chita... ngga aneh banyak dari mereka yang ngga mau pulang, ya secara ngga ada jaminan juga di sini karya dan kualitasnya akan dihargai, ckckck

      Hapus
  9. yahhh gimana gak menurun. . . orang pensiunan aja gak dipelihara ama negara. . . jadi pada males ntu. apalagi klo umurnya udah menjelang tua. . . .pada kendor semua baut semangatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga saja akan segera membaik ya keadaannya :)

      Hapus
  10. kita ngedumelin negara ini karena kita cinta dangan indonesia... walau bagaimanapun indonesia adalah tanah kelahiran yang musti di jaga....

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapu dumelannya cuma bikin capek ati aja, ga ada tindak lanjutnya :(

      Hapus
  11. wew aku baru tau bahkan di dunia olahraga ada korupsi. pahit rasanya kalo dibayangkan. :S
    kalo aku ditanya, cinta nggak sama Indonesia, aku akan jawab, "kita cuma temen deket kok." *jawaban ala artis* XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya sudah mengakar Ham, menjalar ke segala bidang >,<

      Hapus
  12. Saya sepakat soal mimpi, tapi saya tidak sepakat soal korupsi.
    Kalau saya ada di posisi itu, jelas apa yang akan saya pilih. Yang jalurnya jelas. Menurut saya jalur di profesi olahraga ini jelas. Jelas dia harus berjuangnya seperti apa, jelas dia maunya jadi atlet bulutangkis.

    Terus, soal cinta sama Indonesia saya pikir tidak semua orang Indonesia begitu. Siapa coba orang Indonesia yang setiap hari memikirkan nasib negaranya? Tidak semua. Kebanyakan mereka hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Jadi, lakukan saja yang terbaik dan buat negara ini bangga.

    Sori nih, Mbak. Komennya kepanjangan. Pake emosi soalnya, Mbak nulis postingannya panjang juga karena pake emosi, ya? #menerka-nerka

    BalasHapus
    Balasan
    1. makanya Fal, oknumoknum ini juga memikirkan nasib dia sendiri. mana peduli dia sama nasib negaranya. ya secara nasib dia sendiri nggak diperhatikan sama negaranya. saya nggak bilang semuanya seprti itu ya, saya menyebutnya oknum. mungkin kebetulan saja si Ibu itu menemukannya pas si oknum ini :)
      saya nggak emosi kok pas nulis, kebetulan aja emang panjang ceritanya :D

      Hapus
  13. Miris juga ya bacanya... kadang kalau baca berita2 kayak gini mau ga mau jadi suka bandingin sama tempat tinggal sekarang, walaupun ngerti sih ga sehat juga banding2in gitu...

    Tapi setidaknya jadi ngerti kenapa banyak yang milih kabur berprestasi di LN, karena memang bakat dan usahanya lebih dihargai dibanding negeri sendiri...

    btw, salam kenaaaal.. ^___^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha
      saya termasuk orang yang setiap kali ada teman yang ke luar dan mereka mengeluh kangen Indonesia, saya pasti ngomporin "nggak usah pulang, udah di sana aja" :P *jahat*

      salam kenal jugaaa :D

      Hapus
  14. Si bungsu tsb udah tau belum kalo di salah satu PB perbulan disuruh bayar 2,5juta?

    Orang tua mah tentunya bakalan all out ya memperjuangkan masa depan anaknya, kalo harga diri bisa digadaikan ya digadaikan deh. Tapi menurut aku, secara general nih ya, tiap anak mestinya jg harus tau brp biaya resmi dan biaya 'tidak resmi' yg hrs dikeluarkan orang tua demi membantu dia mencapai mimpinya. Jadi biar dia bs liat juga realitanya spt apa sebelum dia menuduh ortu-nya gak suportif.

    Kalo ortunya mampu berlebihan dalam materi mah gak papa. Lha kalo yg pas2an bahkan kurang?

    Tapi yah....gimanapun pendapatku ini kan keluar dr diriku yg blm pernah pny anak. Aku percaya, begitu orang dipercaya jadi orangtua, pola pikir pasti berubah deh. Baliknya ya keatas lagi, segala apa dijual.....harga diri digadaikan kalo perlu, hehehehe..... Demi anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. si bungsu tahu mba, cuma memang si Ibu ini pengennya putri bungsunya berhasil di kedua bidangnya, formalnya sukses mimpinya juga sukses. kalau terpaksa harus memilih salah satu si Ibu ini lebih pilih anak bungsunya mengorbankan mimpinya, daripada pendidikan formalnya.

      Hapus