Selasa, 29 Mei 2012

Dieng: Mengejar Matahari

Bagian I: Dieng: Menuju Dieng
Bagian II: Dieng: Jalan Kaki di Dieng

Jam setengah 4 dinihari saya sudah bangun. Gosok gigi, cuci muka, ganti baju dan bersiap untuk mengejar matahari di bukit sikunir. Bekal pagi itu hanya uang secukupnya, mung bean juice dan kamera. Perlengkapan perang lengkap untuk menghalau dingin sudah saya pakai, jaket tebal, sarung tangan dan kaus kaki yang baru saya beli tak lupa dipakai. Begitu membuka pintu, wuihhhhh, hawa dingin langsung terasa. Pak Abdurahman dan temannya sesuai janji, datang menjemput jam setengah 5 untuk mengantar saya dan teman jalan saya ke bukit sikunir.

Perjalanan ke sana cukup horor. Jalanan gelap gulita, cahaya hanya berasal dari lampu kendaraan saja. Suasana masih sunyi, apalagi yang dilewati adalah hutan. Dalam hati saya berdoa semoga saya ngga dibawa kabur ke tengah hutan sama Bapak ojek, alhamdulillah doa saya dikabulkan, kalau ngga, ya ngga akan ada cerita ini :D Okeiii kembali ke cerita, ternyata saya melewati perkampungan warga juga di perjalanannya. Namanya desa Buntu, dari namanya aja bisa ketebak, itu akan jadi desa terakhir yang saya temui di perjalanan. Dan beneran lho, setelah melewati desa itu, sepanjang jalan yang saya temui cuma pohon pohon dan pohon. Setelah 30 menit perjalanan, sampai juga saya di pelataran parkir Bukit Sikunir. Info aja, untuk menuju Bukit Sikunir juga bisa menggunakan mobil, dengan lama perjalanan sekitar 1jam. Kok lebih lama? Secara medannya cukup susah, jalanannya naik turun, berlubanglubang, jelek banget pokoknya.

Untuk mendaki bukit sikunir, diminta membayar tiket sebesar 3,000IDR/orang. Di perjalanan menuju puncak sikunir, Pak Abdurahman cerita bahwa biasanya mendaki sikunir tidak perlu membayar tiket. Ya udahlah ya, toh cuma 3,000 perak aja. Bodohnya saya lupa ngga bawa lampu senter untuk penerangan, lo pikir kucing Ti, bisa jalan gelapgelapan (-____-") Mendaki bukit tanpa lampu, masuk jurang iya yang ada. Untungnya Pak Abdurahman yang juga merangkap jadi guide membawa lampu senter, fiuhhhh, ngga jadi nyemplung ke jurang.

Jangan bayangkan cuma ada saya, teman jalan saya dan juga Pak Abdurahman saja yang mendaki sikunir. Buanyaaakkk bookk, rame, secara itu pas long weekend, semuanya mendadak pada pengen lihat sunrise. Kalau dibilang gampang mendakinya, bohong! Asli itu yang namanya kemiringan 80 derajat ternyata beneran ada. Capek banget, plus ngeri juga. Secara sini kan sebenarnya fobia ketinggian, soksokan pula mendakidaki bukit. Manalah saya sebenarnya ngga pamit kalau pakai acara mendakidaki begitu ke orangtua. Setengah perjalanan saya udah hampir nyerah, kaki udah lemes banget, nafas ngosngosan, ngga kuat pokoknya. Tibatiba perjalanan terhenti, ngantri dong mau ke puncak bukit aja. Ternyata oh ternyata ada yang pingsan di barisan depan. Serem ngga tuh, ada mbakmbak yang ngga kuat mendaki. Pas saya lewat, dia lagi dikasih minum sama dibalurin minyak kayu putih. Haduh mbak, mbok ya jangan dipaksain kalau ngga kuat daki bukit. Medannya emang nukik banget soalnya, licin, gelap, secara yang dilewatin sebenarnya lereng yang langsung berbatasan sama jurang. Kyaaa!!!

Setelah setengah jam perjalanan yang penuh dengan pertanyaan "masih jauh ngga Pak?" akhirnya sampai juga di puncak Sikunir! Saya bisa nyentuh awan! Saya sampai di tempatnya para dewa! Hore! Di hadapan saya langit masih gelap, bahkan bulan sabit masih menghiasi langit gelap itu. Tak lama kemudian langit kemerahan mulai nampak, tapi matahari masih belum tampak. Sekitar jam setengah 6 lewat, sedikitsedikit matahari mulai muncul. Dan pagi pun hadir :)

masih ada bulan sabit
langit mulai kemerahan
matahari mulai menunjukkan wujudnya :)
wujudnya makin nampak :)
sudah muncul setengahnya :)
makin terlihat :)
3/4 bagiannya sudah kelihatan :)
bulat penuh :)
pagi pun hadir :D
Kami berada di sana sampai jam setengah 7, kemudian kami turun lebih dahulu sebelum rombongan lain menyesaki lereng yang sempit. Katanya proses mendaki itu jauh lebih sulit daripada proses turun. Buat saya sama aja, karena pagi sudah hadir, semuanya menjadi terlihat jelas, jurang yang ada di sisi saya jadi nampak makin mengerikan.

jajaran gunung bisa terlihat dari puncak sikunir (Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, dll)

awan mulai menutupi gunung
Selamat sampai di bawah, saya minta diantarkan dahulu ke DPT. Iya, saya dan teman jalan masih penasaan dengan tebing batu di belakang DPT. Kami masih ingin bebruru foto Telaga Warna dari tebing batu. Sampai di DPT, Pak Abdurahman tidak bisa mendampingi kami mendaki tebing batu, karena harus absen ke kantor. Tapi dia akan menjemput kami kembali jika kami sudah selesai di sana. Dengan tekad bulat a.k.a nekat dua perempuan kurang kerjaan itu pun mencari jalan berdua tanpa guide :D

Kami jalan pelanpelan, asli yang bikin parno sebenarnya adalah kalau tibatiba ketemu uler atau babi hutan gimanaaa. Kami sampai di persimpangan, saya putuskan ambil jalan yang mendaki, logikanya puncak itu adanya di atas bukan turun ke lembah. Melewati sisisisi tebing, melewati ladang kentang milik entah siapa, dan akhirnya kami sampai di tebing batu yang dituju. Apa yang saya temukan?

pemandangannya indah banget!
bisa komen apa melihat ini?!
salah langkah, wassalam
another random pose :D
Cukup lama kami di sana, sampai terdengar sayupsayup suara orang di kejauhan. Ternyata ada rombongan kecil yang datang dengan guide. Bapak guide itu kaget melihat dua sosok perempuan asing yang udah nangkring santai di puncak tebing batu.

Guide: ke sini sama siapa mbak?
Saya: berdua saja Pak :)
Guide: Lah kok bisa?
Saya: Hehehehe *nyengir ngga jelas*
Guide: Tahu jalannya dari mana mbak?
Saya: Nebaknebak aja Pak, alhamdulillah sampai.
Guide: Ya ampun berani banget mbae, atiati mbak.

Jam setengah 9 kami baru turun dari tebing batu lalu langsung sms Pak Abdurahman minta dijemput. Kami pun kembali ke penginapan, leyehleyeh sebentar, sarapan pakai snack yang melimpah, baru kemudian packing untuk pulang. Catatan penting, saya ngga mandi garagara trauma menggigil pas mandi sore hari sebelumnya. Biarlah saya mandi di Wonosobo saja yang airnya lebih bersahabat. Kalau ada yang mau ke Dieng dan butuh ojek yang nganternganter, hubungi aja Pak Abdurahman, service-nya memuaskan kok 085327223933. Kalau datang rombongan pun, dia bisa carikan mobil untuk mengantar keliling objek di Dieng. Harganya bisa nego kok.

Sekitar pukul 10 kami pun pamit pulang, rencananya kami mau mampir dulu di gardu pandang. Sepertinya karena sudah terlalu lelah, saya jadi ngga begitu excited menikmati pemandangan yang sebenarnya cukup indah di hadapan saya. Setelah 15 menit di sana, kami melanjutkan perjalanan menuju kota Wonosobo.

dari atas sana bisa terlihat semua wilayah Dieng
salah satu pemandangan yang bisa diabadikan
Perjalanan kali ini memang double agenda. Selain mau refreshing ke Dieng, saya juga mau bertemu dengan Mbah Putri yang sudah kangen dengan saya :) Kami mampir dulu ke terminal untuk membeli tiket pulang, ternyata tiket sudah tinggal 2 kursi saja yang menuju Bogor. Manalah posisinya ngga nyaman banget. Di kursi 3 dan di tengah pulak :( Tapi saya masih lebih beruntung dibandingkan teman jalan saya yang hanya kebagian bis ekonomi menuju Jakarta. Tiket sudah di tangan, melihat ada warung nasi di sana, perut mulai merontaronta minta diisi. Mampir dulu isi perut dengan nasi putih, gudeg, telur ceplok dan sayur tahu, total kerusakan 5,000IDR.

Perut kenyang, giliran mata yang ngantuk, pengen tidur. Langsung meluncur ke rumah Mbah Putri dan langsung tidur begitu sampai *cucu ngga tahu diri*

Papa memang berasal dari Wonosobo, keluarganya besar dengan 9 bersaudara. Jadilah sepupusepupu, omom, tantetante dan keponakankeponakan saya tumplek semua di rumah Mbah Putri. Seru banget kangenkangenan dan tentu saja ditanya "kapan nikah?" "mana calonnya kok ngga diajak?" dan lainlain sebagaisebagainya.

Jam sudah menunjukkan jam 10 malam, teman jalan saya udah tidur pulas, sesi curhat sama sepupusepupu juga selesai sudah. Saya pun menyusul ke peraduan. Capek tapi senang :D

Esok hari rencananya saya akan ajak teman jalan saya untuk melihat alunalun kota Wonosobo sekaligus cari oleholeh. Hari terakhir di Wonosobo, apakah akan berjalan lancar?

muka baru bangun dan belum mandi :D
Pengeluaran 18 Mei 2012:
- Ojek: 50,000IDR
- Tiket Sikunir: 3,000IDR
- Ongkos mini bus ke gardu pandang: 4,000IDR
- Ongkos mini bus ke Wonosobo: 6,0000IDR
- Ongkos ke terminal: 4,000IDR
- Makan siang: 5,000IDR
- Tiket pulang: 75,000IDR
- Ongkos ke rumah Mbah Putri: 2,000IDR
Total pengeluaran (18 Mei 2012): 149,000IDR

29 komentar:

  1. wew... asyik banget pemandangannya, duh jadi pengen ke wonosobo ne biar bisa ke Dieng... hhmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. lho belum pernah tho mas? jogja dieng kan deket pdhl bisa naik motor pulak, ayoayo ke dieng :D

      Hapus
  2. Akankah suatu hari aku pny keberanian untuk mendaki lereng spt itu? Membayangkannya saja sdh merinding :) but ifkorz it was all worth it ya ties. The view is amazingly breath-taking.

    BalasHapus
    Balasan
    1. percayalah saya pun takut, tapi rasa penasaran jauhh lebih besar dr takutnya, dan untungnya terbayar yahh :D

      Hapus
  3. ke wonosobo ahh ::::: => lari-lari ! :D

    BalasHapus
  4. wah keren dapet sunrise nya ya... trus foto yang gunung dan awan2 itu bagus banget dah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau ngeliat langsung tuh kayak kapas ko, kalo ga inget lagi di puncak pengen banget loncat terus tidurtiduran di awan2nya *udah gila*

      Hapus
  5. jadi ngiler lihat pemandangan'a,tapi walau belum sempat kesana tapi aku yakin pasti aku akan kesana suatu saat nanti ( Jurnalis )

    BalasHapus
  6. Enak banget bisa jalan-jalan ke sana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kerja Zal, terus liburan kesana :D

      Hapus
  7. salam kenal kaak :))
    minta followbacknya boleh ? :D
    btw murah ya kak wisata kakak.__. backpaker kan ya ? :D

    BalasHapus
  8. heee keren...
    jadi kangen ke dieng lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dieng itu emang selalu ngangenin :)

      Hapus
  9. woww....indah sekali pemandangannya !
    hanya bisa "celengo" ngelihat foto2nya Tiesa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo mas Ben, udh lengkap tuh infonya, tinggal gandeng anak istri, berangkat :D

      Hapus
  10. subhanallahu indah banget..!

    BalasHapus
  11. keren, bener bener ngga rugi kamu ke sana

    i love your sunrises

    BalasHapus
    Balasan
    1. beruntung banget mas, karena harihari sebelumnya ga keliatan, krn ketutup awan
      terima kasih :)

      Hapus
  12. Tiesaaaaaaaaa .... sunrisenya aku sukaaaaa ... jadi pengen ke sana lagi, motret sunrise kayak di atas
    fotonya cantik cantik, mupeng aku :D .. trims ya sdh berbagi foto

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo mbak el kesana lagi!!
      terima kasih mbak el :D

      Hapus
  13. ya ampun kemaren baca postingan ini gak bisa komen dari HP :(

    btw ties, berarti kalau dihitung ke dieng itu dua hari cukup yak,, dan deket dengan yogja? kalau pulang pergi dari jogja (tapi tetep nginepnya di jogja) bisa gak ties?

    Aaahhh jadi makin pengen ke jogja deh >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. cukup kalo dari Jogja Nie, cuma kalau misal kamu mau ngejar cunrise, ga bisa berangkat dari Jogja, mau ngga mau mesti nginep di Dieng satu malam
      tapi kalau misal ga ngejar sunrise, cuma muter2 dieng aja, bisa PP dr Jogja, mesti pagi2 buta bgt Nie, karena cuaca Dieng suka ngga bisa ditebak, sayang aja kl pas sampe ternyata pas kabut lg turun, gelapp gulita itu :)

      Hapus
  14. ongkos ojek pak abdurrahman 50rb ,,,itu plus ongkos pemandunya apa gx ya

    BalasHapus
  15. Ka boleh minta kontaknya kaka ga yahh? Mau nanya nanya nih tentang trip ke dieng soalnya udah 2taun mau kesana tapi belom ada keberanian ehehhh

    BalasHapus
  16. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus