Jumat, 31 Oktober 2014

Curug Sawer & Situ Gunung

Oh my.... udah lama banget ternyata ngga nulis disini, halah jangankan nulis, nengok aja udah lama betul *kaget liat tanggal posting terakhir*. More than one year ago yah, hibernasinya keterlaluan ini sih.

Jadi apakabarnya tementemen blogger di penjuru sana? Mudahmudahan baikbaik semua, makin sukses, bahagia selalu, amin :)
Kabar saya? *kayak ada yang nanya aja Tis* Ya ngga apaapa sih yah, saya infoinfo sekalian kabar saya, very good, udah pindah kerja lagi lebih dari setahun, kembali ke ibukota Indonesia. Yeah emang mungkin jodoh dan cintanya sama Jakarta yah, mau macet kayak apa juga balikbalik lagi ke Jakarta :D Ngga, saya ngga akan cerita tentang kerjaan saya sekarang kok, saya mau cerita soal perjalanan saya ke Situ Gunung di Sukabumi yang mungkin udah basi sih, secara jalannya udah bulan Mei lalu.

papan penunjuk
Salah satu alasan kenapa saya ambil kerjaan saya sekarang, karena saya menyadari saya butuh liburan di weekend. Yang mana hal tersebut sulit terjadi di tempat kerja saya sebelumnya, karena Sabtu masuk maak *nangis kejer* Jadilah ketika ada tawaran pekerjaan di tempat baru ini, selain kerjaannya cocok, duitnya pas, weekend juga aku liburrrrrr, yeaayyyy.

Nah Mei lalu seperti biasa secara mendadak saya kabur ke sebuah tempat yang namanya Situ Gunung. Udah agenda lama sebetulnya pengen datang ke tempat ini, tapi baru terlaksana di bulan Mei lalu. Situ Gunung ini lokasi tepatnya ada di Cisaat, Sukabumi. Masuk ke kawasan hutan lindung Gunung Gede. Saya memutuskan pergi tanggal 25-26 Mei 2014, ambil cuti 1 hari. Kan lalulintas ke Sukabumi macet Ti! Iyes kalau naik angkutan bis, tapi saya kali ini pergi pakai kereta api Pangrango. Secara belum pernah ngerasain naik kereta tersebut sejak diresmikan pada November 2013. Tiketnya murah pulak, kelas ekonomi cuma 20,000 dan eksekutif 50,000. Kan eike tipe backpacker yang ogah rugi yaa jadi tentunya pilih kelasnya yang ekonomi aja, toh udah AC juga kok. Perjalanan cuma 2 jam aja, turun di stasiun Cisaat, sambung angkot yang menuju Pasar Cisaat, nah dari Pasar Cisaat sambung angkot merah yang menuju Situ Gunung.

Pengennya sih bawa tenda lalu kemping di dalam kawasan Situ Gunung-nya, tapi apadaya ngga punya tenda dan ngga bisa ngediriin tenda juga. Jadilah saya jauhjauh hari sudah booking penginapan di dekat kawasan Situ Gunung, namanya "Villa Cemara". Lokasinya strategis, tepat berada di dengan gerbang masuk Situ Gunung. Perjalanan kali ini saya ngga sendiri, saya pergi dengan seorang teman saya, ya apalagi tujuannya supaya ada teman untuk sharing cost :D Saya booking kamar yang untuk kapasitas 2-3 orang dengan tarif 300,000/malam berdua jadi masingmasing 150,000. Beberapa hari sebelum hari H, Ibu Tuti pemilik villa menghubungi saya, ternyata kamar tersebut sudah dibook. Saya pun panik, karena yang tersedia hanya tinggal kamar dengan kapasitas 3-4 orang dimana harganya 400,000/malam. Lah kan sini backpacker ngirit yak manalah mau rugi, lagipula saya sudah booked dan transfer untuk kamar yang berkapasitas 2-3orang. Memang masih rejekinya, Bu Tuti mengkonfirmasi sudah clear semuanya. Ternyata oh ternyata saat saya sampai di Villa Cemara, kami diberikan kamar dengan kapasitas 3-4 orang tapi hanya bayar 300,000, akika pun senang dong yah.

Agenda hari pertama langsung trekking menuju tujuan pertama yaitu Curug Sawer. Medannya ternyata cukup terjal, curam dan licin. Saya sempat hilang semangat melihat medan yang seperti itu, tapi ketika berpapasan dengan sepasang omaoma, semangat saya muncul kembali. Masa kalah sama omaoma, dihh sorrysorry yak. Pemandangan pohonpohon dan pegunungan di sepanjang perjalanan juga menambah semangat saya untuk segera sampai di tujuan. Kurang lebih setelah 1 jam perjalanan, kami pun sampai di Curug Sawer. Huwowwwwwww.... cuma itu yang keluar dari mulut saya saat melihat pemandangan air terjun di depan mata. Sekitar 1 jam jepratjepret sanasini, hujan pun turun dengan derasnya. Berlombalombalah kami mencari tempat berteduh.
menyusuri hutan lindung

jalan berbatu yang licin
jalanan curam
papan penunjuk
jernihnya arus sungai
Curug Sawer
mungkin bidadari sesekali mandi di sini :D
muka pengen nyebur
Saat pulang menuju penginapan, kami memutuskan melalui jalan yang berbeda. Sempat ngobrol dengan penduduk di sana, katanya ada jalan yang lebih landai dibandingkan jalan lewat gerbang Situ Gunung. Memang landai, tapi jauh maaaakkk. Itu kalau dipikirpikir, sepertinya kami jalan memutari bukit *tepuk tangan* Namanya hutan lindung ya bookk, adalah itu jalan yang bercabang dan sempet salah jalan, untung ada Bapakbapak baik hati yang kasih tahu jalannya salah. Akhirnya sisa perjalanan dihabiskan sambil ngobrol sama Bapak itu. Ada lho ternyata yang tinggal di dalam kawasan hutan lindung itu, yang mana mereka harus jalankaki dulu minimal 1 jam perjalanan untuk mencapai jalan besar dan ketemu angkutan kota kalau mau ke kota. Saya dan si teman perjalanan total berjalan kaki 3 jam untuk kembali ke Villa Cemara. Ibu Tuti angkat jempol untuk kami berdua ketika tahu rute yang kami ambil, ternyata benar kami memutari bukit hari itu.

Kami memutuskan untuk istirahat, mandi dan menghabiskan waktu di villa cemara saja. Toh kabut juga sudah mulai turun. Villa Cemara ini terdiri dari 2 bangunan, 1 bangunan adalah villa kayu dan 1 bangunan lagi berupa kamarkamar tembok permanen. Villa kayunya disewakan 1 villa tidak bisa per kamar, kapasitasnya kalau tidak salah adalah 20 orang maksimal. Untuk kamarkamar tembok permanen jumlahnya sendiri adalah 3 kamar, masingmaing kamar berbeda kapasitasnya. Kalau mau ngulik lebih jauh, silakan tengoktengok saja ke wabsitenya Villa Cemara. Pemiliknya ramah sekali dan helpful banget. Disana ada dapur lho, jadi kalau kalian mau masak sendiri juga bisa, alatalat masaknya lengkap. Tapi kalau males repot bisa juga kok pesan makan saja, nanti disiapkan sama Ibu Tuti. Apalagi kalau datang rombongan, ingin barbeque-an bisa juga lho ternyata.
Plang Villa Cemara
rumah kayu
halaman depan Villa Cemara
suasana dalam kamar

kamar mandi bersih
sudah pakai toliet duduk 
pesanan makan malam seharga 20,000, enaaakk :D
Singkat cerita, saya tidur nyenyak malam itu. Rencananya akan mulai jalan lagi setelah subuh untuk menuju Situ Gunung. Jangan lupa bawa senter ya kalau kesini, namanya hutan pastilah gelap gulita. Dan dua perempuan yang ngga tau medan mulailah berjalan habis solat subuh, gelapgelapan, dibantu dengan cahaya senter yang temaram, ditemani bunyibunyian binatang hutan. Itu asliiiikkkkkk ngeri abissss, sebenarnya yang ada di bayangan saya, segelapgelapnya toh pasti nanti akan ada pengunjung lain yang jalan samasama dengan kami. Ternyata salaaahhhh, sepii boookkk benerbener cuma berdua. Jalankaki sekitar 30 menit kami pun sampai di sisi Situ Gunung. Belum bisa lihat apaapa, cuma keliatan bulan sabit yang entah kenapa jadi keliatan bagus banget di sana. Air danaunya? Jangan tanyaaaa, sejujurnya saya ngeri ngeliat permukaan danau yang tenang saat itu. Secara sini punya tingkat imajinasi yang cukup tinggi yaaak, jadi ngebayangin ada monster keluar dari dalam danau :D
Selamat Datang di Situ Gunung
ada yang kemping

Menunggu sekitar 15 menit, sinar matahari mulai cukup terang. Barulah kelihatan indahnya Situ Gunung. Situ Gunung ini juga sering disebut danau kaca, karena pemandangan di sekeliling danau akan terpantul dengan cantiknya pada permukaan danau. Sempet ngobrol dengan Bapakbapak yang kebetulan kemping di sisi Situ Gunung, ternyata Situ Gunung ini ada legendanya. Cari sendiri ajalah yah di Mbah Google buat tahu legendanya, panjang benerrrrr maaakkk. 

suasana ketika matahari mulai terbangun dari tidurnya
Situ Gunung
suasananya agak mistis
perahu di tepian danau
Situ Gunung
guess what i thought :D
perahu di tepi danau
kabut masih nampak di kejauhan
awan saja muncul di permukaan danau
Situ Gunung
konon ini katanya bekas dermaga
Situ Gunung
say Hi 
i feel happy
Hari itu pun ditutup dengan belanja sedikit oleholeh Sukabumi, sekalian kami pulang menuju Bogor lagilagi menggunakan kereta api. Akhir perjalanan diakhiri dengan kecopetan HP, tapi itu ngga usah diceritakan lah yah. 
stasiun Sukabumi
kereta Pangrango yang membawa pulang kami

14 komentar:

  1. bagus temaptnya ya.. kelaitannya sejuk dan seger banget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul koh, emang sejuk banget disana :)

      Hapus
  2. Weh, menarik ini mbak. Kebetulan saya juga doyan menyambangi curug-curug, hehehe. Itu selain Villa Cemara apa ada lagi penginapan lain dengan tarif miring di sana? Makasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu saya kesana sih, sepanjang jalan menuju situ gunung banyak banget penginapan yah, tapi soal harganya saya ngga tau :(
      Coba go show aja mencari penginapan dengan harga yg cocok.

      Hapus
  3. Wah keren banget mba apalagi sy suka liat yang ada kabut-kabutnya gitu :)
    Semoga ini menjadi rangkaian awal dari postingan2 lain yang udah lama istirahat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kabutnya masih tebel banget disana dly
      Amiinn semoga bs rutin lagi yak :)

      Hapus
  4. Waaaaah, masih waiting list nih. Kayaknya kok ngehits banget orang2 pada ke Curug Sawer :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh masa sih?
      Karena sejujurnya saya waktu mau ke Curug Sawer susaaaahh banget cari infonya, minim banget yang sharing pengalaman perjalanan mereka kesini.

      Hapus
  5. wah bagus tuh tpt nginepnya. rapi, bersih dan terang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, bagus, asri banget penginepannya :D

      Hapus
  6. Ka mau tanya dong. Kalau kesana enggak harus nginep di villa gapapa? Soalnya ini acara kelas mau kesana

    BalasHapus
  7. pengen ke sana akhir tahun euy ...
    makasih teteh admin infony

    BalasHapus