Rabu, 05 November 2014

2565 Mdpl

Berawal dari sebuah pertanyaan pada diri sendiri "Apa yang mau lo lakukan di pergantian umur lo?" Saya seperti terpacu untuk melakukan sebuah aktivitas yang menantang diri sendiri yang mana hal tersebut bisa menjadi sebuah simbol, pengingat dan ajang berkontemplasi diri *halah gayanya selangit bener* Sebulan sebelum pergantian umur, saya sudah ada rencana di kepala tentang apa yang akan saya lakukan.



Akhirnya harinya tiba, saya mengajukan cuti 2 hari, yang alhamdulillah di approve sama pak bos. Nebeng Papa sama Mama yang kebetulan mau sowan ke Mbah Putri, perjalanan yang saya namakan "Mengejar Matahari" ini pun dimulai. Dulu saya suka sekali hujan, tapi entah sejak kapan kesukaan saya mulai berubah. Saya jadi lebih menyukai matahari dibandingkan hujan. Matahari yang menandakan dimulainya hari, dimana aktivitas pun dimulai sejak matahari terbit. Berangkat dari rumah habis subuh, alhamdulillah sampai di Wonosobo tepat pukul 18.00, dengan perut sudah full karena sudah makan malam. Tidak ada waktu bagi saya untuk bercakapcakap dengan Mbah Putri. Malam itu juga saya langsung ngungsi ke rumah sepupu. Judulnya sih ngungsi ke rumah sepupu, nyatanya mutermuter kota Wonosobo dulu sampai malam (-_____-)
Beautiful Sunrise
Sekitar jam 10 malam saya akhirnya sampai di rumah sepupu dan ngga pakai cuci muka langsung nempel ke kasur, capek abissss. Alarm sudah dipasang jam 1 dinihari, karena kita berdua ngga mau sampai kesiangan. Mau kemana sih memangnya? Jam 1 alarm berbunyi, kami langsung cuci muka, sikat gigi, siapsiap pakai kaoskaki, perbekalan seadanya, sarung tangan, senter dan yang paling penting jaket. Kami pun start jam 1an lewat menuju Gunung Prau. Yessss, dini hari itu saya akan mendaki gunung yang sebenarnya tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 2565mdpl.Kenapa gunung dan kenapa gunung Prau yang dipilih? Sejujurnya saya sudah amat sangat lamaaaaaa sekali ngga melakukan daki mendaki gunung, paling cuma sekedar tracking bukit. Saya ingin mencobai diri saya, menantang diri sendiri bisa ngga sih saya mencapai puncak gunung Prau yang ngga tinggitinggi amat itu. Selain itu lokasi gunung Prau yang ngga jauhjauh amat, ngga perlu berombongan juga karena si sepupu sudah pernah mencapai puncaknya. Jadi kan ngga harus sewa ranger setempat buat jadi guide, murah, ngirit *pelitt* Saya pengen tahu perasaan saya ketika bisa menjejakkan kaki di puncak sebuah gunung, bagaimana perjuangannya, dan apa yang bisa saya lihat di sana.
2565 Mdpl done :D
Jam 2 lebih sedikit, saya sampai di basecamp pendakian Gunung Prau. Lapor dulu untuk didata, ini wajib ya teman, jangan sampai ngga lapor. Meskipun kamu udah sering daki gunung tersebut tapi W.A.J.I.B hukumnya lapor. Kita kan ngga pernah tahu apa yang akan terjadi saat proses mendaki atau saat sampai di puncak. Lucunya setelah beres urusan lapormelapor ini, ada banyak ranger yang duduk di basecamp. Pas lihat saya dan si sepupu, 2 perempuan kecilkecil cuma bawa daypack kecil, mereka bawel. Sempat ngelarang saya buat berangkat ke atas. Tapi melihat kami berdua tetap keukeuh mau nanjak, akhirnya mereka manggil 2 lakilaki yang usut punya usut pendaki dari Semarang. Kita dititipin ajah gituh (-____-)

Pos II

Pos III

Ya sudahlah, meskipun sempet misuhmisuh beduaan sama si sepupu karena kita dianggap perempuanperempuan cengeng *yang emang cengeng, nanti ada ceritanya* yang ngga mampu nanjak Gunung Prau, diawali dengan bismillah kami pun mulai berjalan. Laahhh belum apaapa masa masmas Semarang itu salah jalan, mereka ngga melihat penunjuk jalan, yang seharusnya belok kanan mereka jalan lurus. Jadilah kami yang berjalan di belakang mereka, teriakteriak memanggil mereka. Kami tengok ke belakang, penampakan ranger yang melarang kami mendaki sudah ngga keliatan. Dan kami pun langsung ngebut memisahkan diri dari masmas Semarang tadi huahahahahha. Pos 1 belum sampai, trek masih berupa undakan tangga yang bikin paha pegel, betis keram, lutut lemes. Sampai pos 1 saya istirahat dulu, di sini lah perjuangan dimulai. Nyali saya tibatiba ciut melihat gelap pekat yang ada di depan mata. Belum jalan tanah yang menanjak curam, sempit, dan tanahnya agak berpasir karena di sana belum hujan. Satu per satu para pendaki mulai meneruskan perjalanan, saya? Masih diem, mikir, telat abisss udah sampe lokasi baru mikir. Sempet ngobrol dengan pendaki setempat yang memang berjaga di pos 1, dia bukannya nyemangatin tapi malah bikin nyali makin ciut. Si sepupu menyerahkan semua ke saya, kalau saya berani teruskan tapi kalau mau pulang juga hayuk. Lahh sini kan manusia paling gengsian, manalah mau pulang yah udah terlanjur gitu sih. Akhirnya dengan masih ngga bulet nyalinya, mulai mendaki deh. Dan seketika langsung nyesel, itu aslik yang namanya jalanan berdebu dan tanah berpasir yang licin, bikin saya pengen nangis. Belum lagi di tengah perjalanan menuju Pos 2 ada pendaki lakilaki sedang muntahmuntah karena masuk angin. Meeeennn, cowo aja bisa lho sampe muntahmuntah begitu. Dan puncaknya, ada hujan batu. Jangan bayangkan hujan batu dari langit yah *amitamit, naudzubillah* Ketika sedang fokus cari jalan dengan dibantu sinar senter yang seadanya, tibatiba ada teriakan dari atas, "batu awas batu, minggir minggir" Ya Allah...lutut lemesss selemeslemesnya, langsung nempel ke sisi kiri sebisa mungkin menjauh dari jalur pendakian. Dan itu beneran batu sebesarbesar 2 kepalan tangan meluncur deras, kecil sih memang, tapi tetep akan sakit kalau kena kepala.

Saya pun meweeeeeeeeeeeeeekkk

:)))))))
udah lupa kalau sempet nangis :D
Iyak nyali saya cuma segitu doang, untungnya ngga jauh dari situ ada warung kecil yang mana pedagangnya tidur pules. Saya duduk dulu di situ menenangkan diri, sambil mikir lagi mau nerusin apa balik turun aja. Menimbangnimbang, dengerin ocehan si sepupu "udah segini doang? ngga penasaran di atas kayak apa? payaahhh" Baaahhh langsung emosi, akhirnya saya pun meneruskan perjalanan kembali. Sorrysorry yah udah tanggung sampe sini masa balik lagih *ciyeehhh* Dan ledekan si sepupu sepertinya malah membakar semangat saya untuk segera sampai ke puncak. Ngga lama sampai Pos 2, istirahat sebentar langsung meneruskan lagi perjalanan ke Pos 3. Nah ini medannya udah benerbener crazy! Jalur menanjak, hampir tegak lurus, licin dan mau ngga mau mesti pakai tali. Booookkk saya belum pernah ngalamin perjalanan yang sampai sebegitunya. Saya cuma pernah NONTON yang namanya ngerayap mendaki gunung pakai tali kayak yang kemarin itu di TV. So that was my first time! Energi saya banyak terkuras mulai perjalanan Pos 3 menuju puncak, karena medannya memang yang paling dahsyat. Untungnya di tengah pendakian berpapasan dengan pendakipendaki yang lain, dan mereka dengan baik hati mau bantu kami, entah hanya sekedar mengulurkan tangan untuk menjadi tumpuan atau memegangi tangan kami supaya tidak tergelincir.
percaya kan, kalau hampir tegak lurus treknya
semua orang berpegangan pada tali kalau ngga mau jatuh
pelanepelan asal selamat
Lega luar biasa adalah waktu melihat padang bunga dan tanah  mulai datar. Berarti saya sudah sedikit lagi sampai di puncak, dan benar saja di depan saya sudah mulai tampak jajaran bukit teletubbies yang jadi ciri khas Gunung Prau. Akuh terharuuuuu :')
Padang Bunga

Satu yang jadi tujuan saya adalah solat subuh di puncak Gunung Prau, berbekal aplikasi kiblat, sajadah anti air. Saya mulai menggelar sajadah untuk solat, tepat ketika saya akan bertayamum, ada perempuan yang menegur saya. Dia tanya apa yang sedang saya lakukan dan saya pun menjelaskan kalau saya mau menunaikan solat subuh. Perempuan itu sepertinya agak heran melihat apa yang saya lakukan, dia pun hanya beridiri di sebelah saya, seakanakan mau membuktikan kalau saya cuma bercanda. Tapi saya betulan memang mau solat, dia pun langsung beranjak pergi sambil bilang "yang khusuk ya mba solatnya"
Areal Perkemahan
Banyak Sampah :(
Ingat ya, jangan meninggalkan sampah apapun
Areal Perkemahan

Nah maen jalan ibadah tetep harus jalan dong ya. Beres solat subuh, saya pun dudukduduk di puncak Gunung Prau menatap gugusan gunung yang ada di depan mata. Subhanallah... ciptaan Tuhan memang sungguh indah sekali. Menunggununggu matahari yang sayang sekali hari itu tidak dapat saya lihat langsung, karena tibatiba langit menjadi sangat gelap, angin besar datang seperti badai. Hampir 2 jam saya bertahan di puncak hanya berlindung di balik jaket tebal, membuat saya menyerah dan memutuskan turun. 
liat bulubulu di jaket saya, saking kencangnya angin 
Saatnya pulang
Anehnya meskipun di puncak angin besar dan gelap seperti badai, turun ke Pos 3 cuaca cerah ceria. Beda ketinggian beda cuaca ternyata. Meskipun angin besar tetap saja menjadi teman kami saat turun gunung. Jangan sangka turun gunung lebih mudah daripada naik gunung. Justru saat turun gunung kita harus lebih hatihati, salah memijak masuk jurang, keseimbangan hilang nyemplung ke jurang. Dan kalau saya bisa milih, saya lebih milih nanjak lagi di gelapgelapan, karena ngga keliatan itu jurangjurangnya, jalanan yang terjalnya. Saya sampai membatin, kalau saya mendaki siangsiang, saya pasti ngga akan nangis, tapi langsung pulang. Ngeriiii maaakkk liat medannya. Justru saya lebih banyak berdoa ketika turun gunung, takut jatuh, takut pulang tinggal nama *lebay* Eh tapi beneran lho saya lebih takut pas pulang, teringat kalau saya mendaki gunung tanpa minta ijin ke Papa Mama. Emak gue tahu pastiiiii dia bakal histeris dan ngamuk abisabisan :))

Dan lega luar biasa pas sampai di bawah. Sempat ketemu sama ranger yang menahan kita ngga boleh daki, dia gelenggeleng kepala sambil mengacungkan jempol "udah bisa jadi ranger Mba, kuat naik turun Prau pp ngga pakai nenda" Ihiy i took that statement as compliment lho :D
kapan lagi bisa tiduran di padang bunga begini
yes, i'm happy!
Jadi apa yang saya dapat dari pendakian gunung Prau?
1. Sesulit apapun medan yang kita daki, akan ada sesuatu yang indah menanti kita di puncak sana.
2. Sesulit apapun medan pendakian, pasti akan ada yang menolong, entah teman, entah orang asing, atau Tuhan lewat 'tangan ajaib'-Nya.
3. Perjuangan menuju puncak gunung itu diibaratkan perjuangan kita sebagai manusia untuk bertahan hidup, mempunyai kualitas hidup yang kita harapkan.
4. Say no untuk putus asa, keep positive thinking.
5. dll...

  








13 komentar:

  1. Mbaknya sangarr. Kapan-kapan naik bareng yuk :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaelah cengeng begitu dibilang sangar (-___-")
      Ayok lahh, tapi saya ngga bisa diriin tenda, ga punya tenda, cengeng, siap jadi temen nanjak bareng? :p

      Hapus
  2. wooww cantiknyaaa.... sudah lama sekali saya gak mendaki :D

    BalasHapus
  3. wooww cantiknyaaa.... sudah lama sekali saya gak mendaki :D

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. iyak, perjuangan turun dulu bisa dapet pemandangan begitu. di atas badai ngga keliatan apaapa soalnya

      Hapus
  5. Sampai juga akhirnya di puncak walau sempat nangis sebelumnya. Wow acungin dua jempol :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. :D :D
      sekarang malah jadi pengen nanjak lagi Bu, memang nyandu yg namanya daki gunung ituh

      Hapus
  6. kereeen fotonya, pasti sesuatu banget ini begitu mendaki.. Jadi nagih ya neng, selanjutnya gunung mana lagi yang mau didaki??? :P (pertanyaan provokatif) kabuur...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iww jeng khansaa bisaan ihhh nanyanya
      pengen ke sukabumi nih, tapi buta sukabumi :)

      Hapus
  7. amazing...
    sunsetnya bikin ngiler,, lokasi-lokasinya bagus banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayoo kesana deh, biar bisa liat langsung keindahannya :)

      Hapus